• KANAL BERITA

Warga Desa Tlogolele Kembali ke Rumah

Warga duduk bergerombol di TPPS Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Senin  (21/5) malam akibat naiknya aktivitas Merapi. (suaramerdeka.com/Joko Murdowo)
Warga duduk bergerombol di TPPS Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Senin (21/5) malam akibat naiknya aktivitas Merapi. (suaramerdeka.com/Joko Murdowo)

BOYOLALI, suaramerdeka.com - Ratusan warga Desa Tlogolele, Kecamatan Selo yang mengungsi akibat meningkatnya aktivitas Gunung Merapi, sudah kembali ke rumah masing-masing, Selasa (22/5) pagi. Mereka menginap semalam di Tempat Penampungan Pengungsi Sementara (TPPS) di kompleks balai desa setempat.

‘’Warga sudah pulang semua,’’ ujar Kades Tlogolele, Kecamatan Selo, Widodo.

Ratusan warga dari Dukuh Stabelan, Desa Tlogolele mengungsi menyusul meningkatnya aktivitas Gunung Merapi. Saat ini status Gunung Merapi meningkat dari level I normal atif menjadi level II Waspada.

Dukuh Tlogolele merupakan dukuh paling atas di Desa Tlogolele. Dukuh tersebut hanya berjarak sekitar 3,5 km dari puncak Merapi. Warga yang mengungsi berasal dari Dukuh Stabelan dan beberapa warga Dukuh Takeran.

Menurut Widodo, sejauh ini wilayah Desa Tlogolele juga tidak turun hujan abu akibat beberapa kali letusan freatik gunung Merapi. ‘’Kalau Desa Tlogolele aman. Tidak ada hujan abu di sini,’’ jelasnya. 

Senada, Kadus Stabelan, Desa Tologolele, Maryanto mengungkapkan, warga mengungsi karena masih trauma dengan kasus erupsi Merapi tahun 2010. Namun demikian, warga memutuskan pulang karena situasi sudah aman.

‘’Namun demikian, warga tetap waspada. Apalagi status Gunung Merapi ditingkatkan menjadi waspada,’’ tambahnya. 

Terpisah, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Boyolali, Purwanto, menjelaskan jumlah warga Desa Tlogolele yang mengungsi 362 jiwa. Terdiri, balita 35 anak lansia 12 orang, anak-anak 39, remaja 41 serta ayah dan ibu 235 orang.

Seperti diberitakan, aktivitas Gunung Merapi mengalami peningkatan. Terjadi beberapa kali letusan freatik. Hanya saja, kondisi Merapi tak bisa dipantau dengan mata telanjang karena puncak tertutup kabut. 


(Joko Murdowo/CN40/SM Network)