• KANAL BERITA

Membatik Becak Sembari Menanti Ngabuburit

Peserta lomba membatik pada becak saat tengah melukis dan menghiasnya dengan corak batik, baru-baru ini. (suaramerdeka.com/Muhammad Arif Prayoga)
Peserta lomba membatik pada becak saat tengah melukis dan menghiasnya dengan corak batik, baru-baru ini. (suaramerdeka.com/Muhammad Arif Prayoga)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Becak-becak terlihat memenuhi Jalan Kepodang, Kota Lama. Sebanyak 30 becak memadati seluruh ruas jalan yang hanya selebar lima meter tersebut. Sementara orang-orang mengerubuti tiap-tiap becak yang ada. Mereka terlihat serius dan menikmati saat menuangkan cat pada becak-becak tersebut. Orang-orang itu merupakan peserta lomba membatik pada becak, yang diselenggarakan Jatengtoday.com bekerjasama dengan pengelola yayasan Gedung Monod Diephuis.

Peserta berasal dari seniman, mahasiswa, mau pun komunitas yang tersebar di Kota Semarang dan sekitarnya. Becak-becak itu sebagian merupakan milik warga sekitar Kota Lama. Sebagian lagi merupakan sumbangan dari pemilik Gedung Monod Diephuis Agus S Winarto. Ia membeli becak-becak bekas, untuk kemudian dijadikan bahan bagi kegiatan membatik menggunakan media becak.

''Kegiatan ini bertema ngabuburit sambil membatik becak. Acara lomba memang akan dilangsungkan hingga menjelang waktu buka. Setelah itu kami ajak seluruh peserta dan tukang becak lainnya untuk berbuka bersama,'' ujar Ketua Panitia lomba Membatik Becak, Ismu Puruhito, saat ditemui disela-sela lomba, baru-baru ini.

Menurut Ismu, kegiatan dilangsungkan dalam rangka misi sosial di Kota Lama. Dipilihnya tukang becak karena panitia ingin memberdayakan masyarakat sekitar yang rata-rata masih berprofesi tukang becak.

''Pemilik Monod Diephuis sengaja membeli belasan becak lama untuk diremajakan dengan dicat kembali. Becak-becak itu rencananya akan dihibahkan kepada tukang becak yang masih menyewa. Selama ini, kebanyakan dari mereka belum memiliki becak sendiri. Sementara becak dicat dengan motif batik karena identik dengan budaya Indonesia. Penilaian dilihat dari kerapian, penggunaan warna, hingga mencoloknya jatengtoday.com,'' papar dia.

Ada pun tiga juri yang menilai yaitu Hary Prasetyo (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang), Handry TM (Dewan Kesenian Semarang), dan Syakir (Guru Besar Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang) yang akan menilai.

Salah satu peserta lomba yakni tim Bayu DKK, terdiri atas Bayu, Indra, dan Syafa turut mengikuti lomba dengan mengecat becak mereka bermotif Warak Ngendhog. Mereka berasal dari Universitas PGRI Semarang. Proses pengecatan dilakukan dengan cara mendasari becak warna hitam terlebih dahulu.

''Biar selanjutnya mudah menuangkan motif cat batik pada becaknya. Kami menggunakan lima warna untuk pengecatan yakni hitam, merah, putih, kuning, dan biru. Bahan-bahan seperti cat, kuas, tiner, dan becak disediakan oleh panitia. Jadi kami tinggal mengerjakannya saja. Diberi waktu selama empat jam, mulai pukul 13.00 WIB hingga 17.00 WIB,'' ujar Syafa.


(Muhammad Arif Prayoga/CN40/SM Network)