• KANAL BERITA

Pemkab Cek Kesiapan Tiga Barak

BARAK PENGUNGSI: Warga melintas di dekat barak pengungsian di Desa Menden, Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten. (suaramerdeka.com/Achmad Hussain)
BARAK PENGUNGSI: Warga melintas di dekat barak pengungsian di Desa Menden, Kecamatan Kebonarum, Kabupaten Klaten. (suaramerdeka.com/Achmad Hussain)

KLATEN, suaramerdeka.com – Dalam sebulan ini, aktivitas Gunung Merapi mengalami peningkatan, ditandai dengan tiga kali letusan freatik. Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, Pemkab Klaten mengecek dan menyiapkan tiga barak pengungsian dan membagikan masker ke desa-desa kawasan puncak.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Klaten, Bambang Giyanto mengatakan tiga barak selter di tiga desa sudah dicek kesiapannya. ''Ketiganya dalam kondisi baik dan siap digunakan,'' katanya, Senin (21/5) usai rapat koordinasi di Pemkab.

Bambang menjelaskan, pengecekan dan penyiapan barak dilakukan menyusul sebulan terakhir terjadi tiga kali letupan freatik. Pertama dua pekan lalu dan terakhir terjadi dua kali pada Senin (21/5).

Letupan karena dorongan gas itu Senin terjadi  pada pukul 01.25 WIB dan 09.38 WIB. Letupan pada 09.38 WIB cukup tinggi sebab ketinggian asap mencapai 1.200 meter selama enam menit serta terpantau dari CCTV yang dipasang di Gunung Merbabu. Setelah kejadian tidak ada kegempaan dan diikuti penurunan suhu kawah.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) meminta warga tetap tenang dan mengantisipasi jika ada abu vulkanik. Namun letupan itu tidak berdampak bagi warga di lereng Merapi wilayah Klaten. Tidak ada abu vulkanik dan warga tetap beraktivitas normal.

Abu vulkanik dari hasil pengecekan terakhir ke beberapa lokasi tidak ada yang turun di wilayah Kabupaten Klaten. Status Gunung Merapi masih aktif normal atau level 1 meski terjadi letupan tiga kali dalam sebulan terakhir.

Siapkan Masker

Bambang menambahkan, tiga barak pengungsi itu akan mampu menampung 500 jiwa dalam kondisi normal. Namun dalam kondisi terpaksa bisa menampung lebih banyak lagi. Tiga barak itu ada di Desa Demak Ijo, Kecamatan Karangnongko; di Desa Senden, Kecamatan Kebonarom dan Desa Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan.

Dari tiga lokasi itu, hanya barak di Desa Demak Ijo yang ada sedikit kendala sebab digunakan kantor sementara kecamatan yang tengah direhab. Namun hal itu bisa dikoordinasikan dan semua siap digunakan.

Selain barak, Pemkab sudah menyiapkan logistik berupa masker. Masker sudah dikirim ke desa-desa di kawasan puncak pekan lalu saat letupan pertama 26.000 masker. Nantinya apabila dirasa kurang bisa ditambah stok.

Potensi sukarelawan telah disiagakan dengan koordinasi apabila ada kejadian yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya. Kaur Perecanaan Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Juli mengatakan meski terjadi dua kali letupan, warga tidak panik. Warga tetap beraktivitas seperti biasa. ''Warga sudah paham prosedurnya saat terjadi,'' katanya.

Namun demikian pemerintah desa terus memantau perkembangan di lapangan. Sebab desanya merupakan desa tertinggi bersama Desa Balerante dan Tegalmulyo. Jenarto Jeck dari Paguyuban Sabuk Gunung Merapi mengatakan, warga tidak panik sebab dari desa-desa di kawasan puncak Kabupaten Klaten saat terakhir tertutup kabut. Warga tidak bisa melihat letupan asap ke angkasa sehingga warga menanggapi biasa saja.


(Achmad Hussain/CN40/SM Network)