• KANAL BERITA

Masih Ada Problema Kebangsaan yang Butuh Perhatian Kita Semua

Eko Suwanto. (suaramerdeka.com/Sugiarto)
Eko Suwanto. (suaramerdeka.com/Sugiarto)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Beberapa tahun terakhir khususnya tahun 2018, Indonesia menghadapi tantangan bagaimana wujudkan demokrasi yang lebih baik. Meski ini bukan hal yang mudah untuk mewujudkan harapan rakyat, namun menjadikan demokrasi metode untuk mencapai kesejahteraan untuk semua. Ketua Komisi A DPRD DIY,  Eko Suwanto, mengatakan itu pada wartawan di Yogyakarta, Minggu (20/5).

Menurut dia, ada sejarah panjang paska reformasi, bangsa Indonesia 20 tahun terakhir mengarungi pasang surut berdemokrasi. Tantangan tahun 2018 dan 2019 ini, adalah bagaimana wujudkan pemilu yang jujur, adil, rahasia, dan bermartabat berbudaya yang ditandai semangat melawan 'money politics' atau kejahatan lainnya. 

Pemilu bermartabat, lanjut Eko Suwanto, ditandai penggunaan sosmed yang waras, tanpa firnah atau ujaran kebencian. Rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi dalam pemilu harus dijamin hak konstitusinya dalam menggunakan hak dalam keadaan yang nyaman dan bahagia.

Demokrasi yang baik, juga ditandai dengan kedamaian dan semangat melawan politisasi agama untuk kepentingan pihak tertentu. ''Ayo kita buat rakyat bahagia dalam menikmati pesta demokrasi bernama pemilu,'' kata Eko Suwanto, Ketua Komisi A DPRD DIY dari Fraksi PDI Perjuangan Dapil Kota Yogyakarta.  

Politisi muda PDI Perjuangan Dapil Kota Yogyakarta menengarai, ada gelagat dari pihak tertentu yang oleh karena dibutakan nafsu angkara murkanya justru membajak demokrasi yang berjalan dengan berusaha mengganti arah perjuangan bangsa.

''Masih ada problema kebangsaan, butuh perhatian kita semua. Ancaman intoleransi, radikalisme dan terorisme nyata adanya, termasuk ancaman fitnah, hasutan dan ujaran kebencian di sosmed,'' katanya. 

''Menghadapi ancaman ini kita dukung konsolidasi besar antara pemerintah dan masyarakat untuk bersama melawan. Penegakan hukum harus diiringi dengan pendidikan politik yang baik," tambah Eko Suwanto. 

Di moment peringatan kebangkitan nasional ini, tepat pada tanggal 20 Mei semua elemen bangsa diingatkan agar bisa kembali menggelorakan semangat Boedi Oetomo untuk membawa bangsa ke arah kemerdekaan, kebangkitan nasional. 

"Sebagai aktivis GMNI, bersama rakyat dan elemen mahasiswa dari berbagai kampus turut berjuang dengan aksi-aksi damai di Yogyakarta. Sejarah pergerakan kaum muda yang tak boleh dilupakan begitu saja, gerakan rakyat yang rindukan perubahan berhasil gulingkan pemerintahan rezim orde baru pimpinan Soeharto yang serakah, korup dan otoriter,'' katanya. 

''Oleh karena itu, gerakan mahasiswa harus terus berpedoman pada amanat penderitaan rakyat dalam wujudkan rakyat yang sejahtera, adil dan makmur,'' kata Eko Suwanto, alumni GMNI. Kini, setelah 20 tahun reformasi berlalu ada beberapa catatan yang perlu direspon secara serius. 

Yaitu, intoleransi, radikalisme, terorisme, aksi teror dan aksi politis yang merongrong kewibawaan pemerintah. Siapa mereka para pembajak demokrasi itu? Jelas sekali, rupanya ada sosok yang di masa perjuangan reformasi telah melakukan klaim sejarah, menghilangkan peran anak-anak muda yang berjuang di jalanan. 


(Sugiarto/CN40/SM Network)