• KANAL BERITA

Pokdarwis Selokromo Hidupkan Kesenian Lokal yang Sempat Tertidur

Sejumlah remaja putri menari kesenian wayang 'othok obrol' dan kesenian 'daeng' dengan pakaian tradisional dalam Gelar Budaya Selokromo Gumregut di Halaman Balai Desa Selokromo Kecamatan Leksono, Wonosobo, baru-baru ini. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)
Sejumlah remaja putri menari kesenian wayang 'othok obrol' dan kesenian 'daeng' dengan pakaian tradisional dalam Gelar Budaya Selokromo Gumregut di Halaman Balai Desa Selokromo Kecamatan Leksono, Wonosobo, baru-baru ini. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)

WONOSOBO, suaramerdeka.com - Sejumlah remaja putri tampak luwes menari mengenakan pakaian tradisional dengan gerakan serupa. Iringan musik gendhing yang bergema kian menjadikan suasana siang itu bertambah khidmat. Ya, mereka tengah menunjukkan kesenian wayang 'othok obrol' dan kesenian 'daeng' kepada ribuan pasang mata pengunjung. Serta sejumlah pejabat penting pemerintah kabupaten yang datang, salah satunya Bupati Wonosobo Eko Purnomo.

Wayang 'othok obrol' dan kesenian 'daeng' memang sengaja dipentaskan dalam suguhan Gelar Budaya Selokromo Gumregut di Halaman Balai Desa Selokromo Kecamatan Leksono, Wonosobo, baru-baru ini. Bagaimana tidak, saat ini Kabupaten Wonosobo semakin dikenal luas masyarakat karena pesona alamnya yang sangat indah, kekayaan budaya dan kesenian yang tak terhitung. Serta menjadi destinasi pilihan para wisata, baik lokal, regional mau pun mancanegera.

Kondisi itu membuat mayoritas masyarakat di wilayah Wonosobo tertarik untuk terus mengembangkan potensi daerahnya, agar menjadi salah satu tujuan baru yang layak dikunjungi. Seperti halnya yang dilakukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Selo Nyawiji Desa Selokromo, yang terus berupaya menggiatkan potensi budaya seni asli desa tersebut. "Wayang 'othok obrol' dan kesenian 'daeng' ini merupakan kesenian lokal yang terus kami hidupkan," ujar Ketua Pokdarwis, Winarni.

Winarni menjelaskan, kedua kesenian tersebut merupakan salah satu kearifan desa tersebut. Di mana, ia menyebut Desa Selokromo sebagai sentra seni. Wayang othok obrol merupakan karya dari seorang warga yang merupakan dalang yang pada masa itu getol mengadakan pementasan, namun karena kurangnya alat akhirnya meminjam ke daerah lain. Sayangnya, ketika tampil belum siap masyarakat sudah saling ramai 'othok', sehingga dinamakan demikian.

Sementara itu, Winarni menyebut kesenian lain yang merupakan asli Selokromo adalah 'daeng' yang berasal dari nama budaya yang aeng atau aneh, karena memadukan beberapa kesenian. Pihaknya berharap, dengan akan dibentuknya Desa Selokromo sebagai desa wisata budaya, kesenian lokal berupa wayang 'othok obrol' dan 'daeng'
dapat dijadikan muatan lokal sekolah. Sehingga wisatawan nantinya dapat menikmati kesenian tersebut baik di sanggar mau pun di sekolah-sekolah.

Ketua Panitia Gelar Budaya Selokromo Gumregut, Pudyo Sularso menambahkan, pihaknya berupaya menghidupkan sejumlah kesenian lokal yang sempat 'tertidur'. Terdapat 14 group kesenian dari tiga dusun di Desa Selokromo turut mengikuti gelar budaya tersebut. Kegiatan tersebut pertama kali digelar dan merupakan rintisan perdana Pokdarwis Selokromo guna menampilkan kreasi seni masyarakat Selokromo baik tradisional mau pun modern.

Ia menyebut kesenian yang ada meliputi seni gamelan, rebana, tari-tarian dan akustik. Latar belakang diadakanya acara tersebut karena adanya nilai historis Desa Selokromo sebagai desa seni pada zaman dahulu. Selain itu, kegiatan gelar budaya juga merupakan langkah awal Pokdarwis Desa Selokromo untuk rencana pembentukan Desa Wisata Budaya Selokromo. "Selain mengangkat kearifan lokal, panorama alam desa juga akan dikembangkan kedepannya," beber dia.


(M Abdul Rohman/CN40/SM Network)