• KANAL BERITA

Kue Apem Simbol Permohonan Ampunan

Sambut Ramadan di Desa Gombang

KUE APEM: Warga dan sesepuh Dusun Gombang Baru, Desa Gombang, Kecamatan Cawas berdoa bersama sebelum masuk Ramadan. (Foto suaramerdeka.com/Achmad Hussain)
KUE APEM: Warga dan sesepuh Dusun Gombang Baru, Desa Gombang, Kecamatan Cawas berdoa bersama sebelum masuk Ramadan. (Foto suaramerdeka.com/Achmad Hussain)

SIAPA yang tidak kenal kue apem ? masyarakat Klaten khususnya dan Jawa umumnya pasti mengenal kue berasa gurih legit dan kenyal itu. Apem sendiri menurut berbagai literatur berasal dari bahasa Arab, afwun atau afuwwun yang bermakna ampunan. 

Masyarakat Desa Gombang, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten menggunakan kue itu sebagai simbol sakral untuk  memohonkan ampunan leluhur sekaligus saling memaafkan antarwarga memasuki bulan Ramadan 1439 H. 

'' Tradisi itu sudah kami lakukan secara turun-temurun, sejak saya kecil bahkan sejak kakek-nenek saya,'' ungkap tokoh masyarakat Desa Gombang, Kecamatan Cawas, Purwanto Amitaba, Sabtu (19/5). 

Menurut mantan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Gombang itu, di dusun tempat tinggalnya yaitu Dusun Gombang Baru, kue apem dibuat warga saat menjelang masuk bulan Ramadan. Sehari sebelum masuk bulan Ramadan, warga ramai-ramai membuat kue berbahan utama tepung terigu, tape dan gula itu. 

Malam hari sebelum melaksanakan shalat tarawih berjamaah di masjid, kue dibawa ke rumah sesepuh dusun. Setiap perwakilan kepala keluarga (KK) membawa kue itu minimal 20 butir. Jumlah kue tidak boleh ganjil dan harus genap. 

Di rumah tetua dusun itulah warga bersama-sama memanjatkan doa dipimpin ulama setempat. Doa yang dipanjatkan utamanya bertujuan memohonkan ampunan para leluhur yang sudah wafat atau ngunggah-unggahi. Sebab kue dikhususkan untuk leluhur, bagi warga yang masih utuh biasanya tidak membuat kue. Tetapi hanya akan menerima sebagian kuenya.

Doa Warga

Selain diisi doa permohonan ampunan bagi leluhur, kata Purwanto, di acara itu warga saling memaafkan dan diakhir dengan doa meminta kebaikan bersama untuk warga dusun. Kadang diisi dengan pengajian dan setelah didoakan bersama, kue diibawa pulang, dimakan bersama atau dibawa ke masjid untuk makanan kecil jamaah. 

Kue itu tidak ada kaitanya dengan tradisi sadranan yang umum di masyarakat Jawa dibuat sebulan sebelum Ramadan. Ketua RT 3/ RW 4 Desa Gombang, Kecamatan Cawas, Ngadino mengatakan tradisi itu tidak jelas kapan ada di desanya. Yang jelas sudah diwarisi secara turun-temurun. 

Tujuan utamanya mendoakan para leluhur yang sudah meninggal dan sebagai sarana saling memaafkan antarwarga menjelang Ramadan. '' Yang jelas langsung manfaatnya dirasakan sebagai ajang silaturahmi warga sebelum masuk ke bulan Ramadan,'' katanya. 

Menurutnya, kue apem memang banyak ditemui di desa-desa lain. Biasaya digunakan saat tradisi sadranan. Di dusunya saat sadranan juga menggunakan nasi dan lauk, sedangkan kue apem hanya sebagai pelengkap. Namun saat masuk hari pertama awal Ramadan, yang dibuat dan dibawa warga ke acara doa hanya kue apem saja. 

Tradisi itu pun tidak ada namanya secara khusus, seperti sadranan atau <I>ruwahan<P>. Hanya disebut doa bersama warga sebelum masuk Ramadan dan tidak ada embel-embel lain dalam kegiatan itu.

Pembuatan kue dan acara itu pun tidak dipaksakan. Warga yang tidak membuat kue pun tidak masalah. Yang jelas, tradisi itu terus lestari di wilayahnya sampai saat ini. Minimal untuk memperkuat kerukunan warga sebab dengan kegiatan itu setiap KK bertemu di satu lokasi.
 


(Achmad Hussain/CN19/SM Network)