• KANAL BERITA

Kegiatan Surveilans Migrasi Harus Dioptimalkan

Petugas puskesmas melakukan pengecekan sedian darah masyarakat di daerah rawan malaria, baru-baru ini. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)
Petugas puskesmas melakukan pengecekan sedian darah masyarakat di daerah rawan malaria, baru-baru ini. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)

WONOSOBO, suaramerdeka.com - Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo terus mendorong kegiatan surveilans migrasi di wilayah-wilayah rawan penyebaran penyakit terus dioptimalkan. Masyarakat mau pun pendatang yang pulang atau menginap, diharapkan bisa diawasi dan diperiksa kesehatannya. Hal ini guna mengetahui lebih jelas orang tersebut terserang penyakit yang rawan menularkan atau pun tidak.

Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Wonosobo, Jaelan Sulat menyebutkan, optimalisasi kegiatan surveilans migrasi penting. Karena Wonosobo telah mendapat sertifikat eliminasi malaria sejak 2015. "Kami tidak ingin kecolongan atas kemungkinan meledaknya kasus malaria, jika terdapat pendatang atau tamu luar dari daerah endemis malaria," beber dia.

Menurut dia, kondisi saat ini untuk mempertahankan Wonosobo bebas malaria memang sangat berat. Karena, Wonosobo berada di sekitar daerah kabupaten yang belum tereliminasi malaria, seperti halnya Purworejo, Kebumen dan Banjarnegara. "Berbagai wilayah perbatasan kami awasi ketat, lebih khusus wilayah Purworejo yang saat ini angka kasus masih sangat tinggi," terangnya.

Kondisi saat ini, dikatakan Jaelan, di Wonosobo masih terdapat sejumlah kecamatan terdapat vektor nyamuk malaria yang rawan menyebarkan penyakit dari penderita positif, seperti Kecamatan Kepil, Kalibawang, Kaliwiro, Wadaslintang, Sukoharjo, Leksono dan Watumalang. Vektor nyamuk malaria di sejumlah wilayah Wonosobo itu pun cukup beragam, seperti anopheles aconitus, anopheles maculatus dan anopheles balabacensis.  

Dijelaskan, penyebaran kasus malaria sangat mungkin terjadi, jika pengawasan pendatang mau pun orang yang datang merantau dari daerah endemis malaria tidak dilakukan maksimal. Tim survailans mau pun pihak perangkat desa harus bisa memantau, mengawasi dan memberikan kesadaran masyarakat agar melaporkan jika ada pendatang mau pun perantau pulang ke kampung halaman.

Bahkan, kata dia, saat ini pihaknya pun masih waswas dengan kebiasaan masyarakat di wilayah Kecamatan Kepil yang berbatasan dengan wilayah Purworejo. Kebiasaan masyarakat saat musim panen padi, mereka bisa menginap berhari-hari di wilayah Purworejo. "Itu juga patut diawasi ketat, karena migrasi lokal dari wilayah endemis juga rawan penyebaran penyakit malaria," tandas dia.

Sebelumnya, pihaknya menemukan sembilan kasus warga Wonosobo positif malaria. Delapan kasus mereka baru pulang merantau dari Papua dan terdeteksi positif malaria. Sedangkan satu kasus, pelajar di Kecamatan Kepil juga positif malaria lantaran tergigit di wilayah Purworejo. Delapan orang yang terdeteksi berada di empat kecamatan, yakni Sapuran, Kertek, Mojotengah dan Wonosobo. 

Rombongan perantau tersebut pulang dari Papua pada awal April. Mereka pulang dalam kondisi sakit, karena positif malaria. Pihaknya berhasil mendeteksi keberadaan mereka, lantaran terdapat salah satu perantau dari Desa Bogoran Kecamatan Sapuran yang mengalami sakit dan harus diopname di Puskesmas Sapuran. Setelah diperiksa, ternyata dia positif malaria. Saat ini mereka telah mendapat penanganan dan pengobatan. 


(M Abdul Rohman/CN40/SM Network)