• KANAL BERITA

Bupati Kulonprogo Akan Temui Satu Per Satu Warga Penolak NYIA

foto: istimewa
foto: istimewa

KULONPROGO, suaramerdeka.com – Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, kembali berencana melakukan persuasi dengan mendatangi satu per satu warga penolak bandara yang masih bertahan di dalam wilayah Izin Penetapan Lokasi (IPL) pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA). Semula sempat beredar kabar, pelaksanaan pengosongan lahan dan pemindahan atau relokasi warga yang masih bertahan di dalam IPL akan dilaksanakan sebelum bulan puasa. Namun hingga memasuki bulan Ramadan, ternyata rencana pemindahan tersebut belum terlaksana.

Mengenai belum terlaksananya rencana pemindahan warga sebelum Ramadan tersebut, Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo mengatakan, Pemkab Kulonprogo bukan merupakan penentu kebijakan dan hanya mengikuti program dari pelaksana proyek pembangunan NYIA, yakni PT Angkasa Pura I. Pemkab sendiri berprinsip agar pelaksanaan pemindahan warga tersebut dilakukan secara persuasif dan dengan pendekatan sebaik mungkin.

“Kalau mungkin pertimbangan supaya sempurnanya persuasif, misalnya tidak mengambil bulan puasa kalau sebelum bulan puasa mungkin tidak bisa selesai, ya saya tentu menghormati apa yang menjadi keputusan. Saya kira itu keputusan Angkasa Pura I,” kata Hasto, kemarin.

Di bulan Ramadan ini, Hasto berencana kembali turun untuk mendatangi menemui sejumlah warga yang masih bertahan tersebut. Dia berencana kembali menemui warga satu persatu karena beberapa waktu lalu baru menemui lima keluarga yang masih bertahan. Hasto berharap, di bulan Ramadhan semua pihak bisa berpikir jernih dan tidak ada emosi.

“Harapan saya tidak ada emosi, tidak ada orang tersinggung, tidak ada orang marah-marah, sehingga semua berfikirnya jernih bisa mengambil makna Ramadhan ini dengan berfikir jernih,” katanya.

Pemkab dan PT Angkasa Pura I telah menyiapkan berbagai solusi. Dicontohkan, bagi warga yang tidak memiliki rumah untuk pindah keluar dari wilayah IPL, disediakan untuk diberikan rumah dan tanah gratis. Dengan berpikir jernih, solusi-solusi tersebut diharapkan bisa diterima oleh warga.

“Saya contohkan, ada orang yang akan diberikan rumah dan tanah gratis, dia juga tidak punya rumah, tapi punya tabungan, tapi tidak mau dan  tidak bersedia, lebih bersedia untuk bertahan, seperti itu kan barangkali kalau di bulan Ramadan bisa berfikir jernih. Siapa tahu kemudian juga bisa masuk pemikiran itu,” imbuhnya. 


(Panuju Triangga/CN40/SM Network)