• KANAL BERITA

Latih Kemandirian Siswa, Metode SKS Diterapkan

Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, Baidhowi melakukan kunjungan ke SMA Muhammadiyah Wonosobo, baru-baru ini. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)
Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, Baidhowi melakukan kunjungan ke SMA Muhammadiyah Wonosobo, baru-baru ini. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)

WONOSOBO, suaramerdeka.com - SMA Muhammadiyah Wonosobo berupaya menerapkan terobosan sistem pembelajaran model sistem kredit semester (SKS) kepada peserta didiknya. Terobosan itu dilakukan, untuk melatih para peserta didik belajar secara mandiri dan menggenjot kualitas siswa di tengah adanya heterogenitas atau keragaman kemampuan dasar yang dimiliki masing-masing peserta didik di sekolah tersebut.

Kepala SMA Muhammadiyah Wonosobo, Zulfan Setyanto mengatakan, perbedaan kemampuan belajar, seharusnya tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk menjadi pribadi yang mandiri. "Keragaman kemampuan akademik, minat bakat dan potensi peserta didik itu menuntut kebutuhan pengembangan sistem pembelajaran inovatif, lebih efektif dan dapat mengakomodasikan keragaman tersebut," ujar dia. 

Menurut dia, sekolah swasta tersebut memiliki ratusan peserta didik dengan beragam kelebihan. Perbedaan pada setiap individu siswa, memang tidak pernah dijadikan sebagai penghalang dalam menerapkan pola pembelajaran. Bahkan, malah dijadikan sebagai motivasi bagi dewan pendidik untuk terus memperkaya inovasi pembelajaran serta kemampuan mengelola kelompok belajar.

“Berbagai macam latar belakang peserta didik itu sudah pasti akan membawa karakter yang berbeda-beda. Sehingga akan memberikan output yang berbeda pula. Fasilitas dan layanan kepada peserta didik kami upayakan semaksimal mungkin, demi memfasilitasi minat dan bakat anak. Model pembelajaran di tingkat sekolah menengah, umumnya menuntut peserta didik mengambil paket mata pelajaran yang disediakan sekolah," beber dia.

Kondisi ini, lanjut dia, tidak melatih kemandirian peserta didik dalam segi memilih pelajaran. Karena, peserta didik tidak dilatih untuk merancang rencana pembelajaranya sendiri. Padahal perbedaan kadar kemampuan dasar yang dimiliki peserta didik (kecerdasan majemuk), menjadi salah satu alasan setiap individu perlu diperlakuan berbeda baik pada minat, bakat dan kecerdasan dalam belajar. 

Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, Baidhowi, mengaku sangat mendukung upaya terobosan yang dilakukan SMA Muhammadiyah Wonosobo. Pihaknya berharap, melalui terobosan tersebut, selain melatih siswa mandiri juga melatih siswa merencanakan pengambilan mata pelajaran sesuai yang diharapkan. Jika sudah menjadi kemauan mereka, mereka akan belajar lebih maksimal sesuai yang diambil. 


(M Abdul Rohman/CN40/SM Network)