• KANAL BERITA

2018, Hanya Ada Empat Kasus DBD

DATA KASUS: Data kasus DBD ditempelkan di kantor Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten. (suaramerdeka.com/Achmad Hussain)
DATA KASUS: Data kasus DBD ditempelkan di kantor Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten. (suaramerdeka.com/Achmad Hussain)

KLATEN, suaramerdeka.com - Kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) 2018 minim. Pada bulan April sampai Mei hanya ada empat kasus.

''Sampai bulan Mei hanya ada empat kasus DBD dengan kasus kematian nol,'' jelas Kepala Seksi (Kasi) Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Dinkes Klaten, Wahyuning Nugraheni, Rabu (16/5).

Dikatakannya, kasus yang hanya empat itu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun sebelumnya, masuk bulan April sampai Mei merupakan puncak serangan DBD. Jumlahnya bisa belasan sampai puluhan kasus di tri wulan pertama tahun berjalan.

Rendahnya kasus DBD itu bisa disebabkan banyak faktor. Bisa jadi karena kesadaran masyarakat untuk membersihkan sarang nyamuk dengan PSN sudah meningkat karena selalu diberikan penyuluhan, atau bisa jadi karena cuaca.

Dari sisi cuaca, masuk bulan April sampai Mei suhu udara cenderung kering dengan sisa hujan. Hujan sudah tidak lagi turun sehingga udara kering yang tidak memungkinkan nyamuk berkembang biak di luar rumah.

Namun demikian, masyarakat tetap diminta tidak lengah. Sebab meski di luar rumah tidak mungkin berkembang, di dalam rumah masih ada air. Baik di bak penampungan maupun perabot. 

Potensi Serangan

Apabila masyarakat tidak giat pembersihan sarang nyamuk (PSN), kata Wahyuning, dikhawatirkan potensi serangan tetap ada.

Untuk itu, meskipun kasus sedikit, PSN harus tetap dilakukan rutin di setiap rumah tangga dan lingkungan. Menimbun dan mengubur barang bekas serta menguras penampungan air. Masyarakat diminta tidak lengah sebab DBD bisa menyebabkan kematian.

Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit ( P2P ) Dinkes Klaten, dokter Anggit Budiarto mengatakan penatalaksanaan penanganan DBD terus dilakukan Dinas di semua lini. Baik di Dinas, Puskesmas, sampai di tingkat RT/ RW. ''Pengamatan epidemologi terus kami lakukan ,'' katanya.


(Achmad Hussain/CN39/SM Network)