• KANAL BERITA

Pedagang Kembang Api Diminta Tak Jual Petasan

Penyidik Pembantu Satreskrim Polres Wonosobo, Bripka Siget Prahmono memberikan paparannya saat FGD Larangan Membuat dan Meledakan Mercon di salah satu rumah makan di Wonosobo, Rabu (16/5) siang. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)
Penyidik Pembantu Satreskrim Polres Wonosobo, Bripka Siget Prahmono memberikan paparannya saat FGD Larangan Membuat dan Meledakan Mercon di salah satu rumah makan di Wonosobo, Rabu (16/5) siang. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)

WONOSOBO, suaramerdeka.com - Para pedagang kembang api di Wonosobo diminta tidak memperjualbelikan petasan atau mercon kepada masyarakat mau pun anak-anak. Pasalnya, petasan termasuk benda berpeledak yang dilarang sesuai Undang undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951. Hal itu mencuat dalam Focus Group Discussion (FGD) Larangan Membuat dan Meledakan Mercon yang digelar Satuan Bimbingan Masyarakat (Bimas) Polres Wonosobo, Rabu (16/5).

Penyidik Pembantu Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Wonosobo, Bripka Siget Prahmono menyebutkan, di UU Darurat tersebut disebutkan, petasan itu tidak dibenarkan. Maka dari itu, kepolisian melarang dan akan melakukan tindakan tegas kepada siapa pun yang memproduksi, memperdagangkan dan menyalakan petasan. "Mercon itu meledak, jadi dilarang. Kalau kembang api masih kami bolehkan," ujar dia.

Pihaknya meminta seluruh masyarakat tidak menyalakan petasan, apalagi saat momen Ramadan ini. Karena, selain melanggar aturan, banyak hal negatif bisa ditimbulkan dari petasan, baik membahayakan orang yang meledakkan, orang lain yang terkena, rawan menyebabkan kerusakan pada bangunan seperti kebakaran dan guncangan serta mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.

Kepala Bidang Penegakan Perda Satpol PP Wonosobo, Sunarso mengaku, pihaknya bersama aparat kepolisian, TNI serta lainnya akan berupaya melakukan pengawasan serta penertiban di lapangan, jika masih dijumpai peredaran petasan di masyarakat. "Kami berharap, masyarakat tidak lagi bermain petasan dan para penjual kembang api juga tidak kucing-kucingan menjual petasan," pintanya.  

Senada, Kepala Satuan Bimas Polres Wonosobo, AKP Masrukin menyebutkan, pihaknya sengaja menggelar FGD tersebut dengan sasaran para penjual kembang api di seluruh kecamatan di Wonosobo. "Ada sebanyak 60 orang pedagang kembang api yang dahulu pernah berjualan petasan, kami beri pembekalan pada kesempatan ini, agar mereka tahu aturan larangan petasan dan sanksinya," ujar dia.

Menurut dia, momen Ramadan kerap dijadikan sejumlah masyarakat, lebih khusus pemuda dan anak-anak, untuk kegiatan menyalakan petasan. Pihaknya terus berupaya menyadarkan masyarakat, menyadarkan para pedagang serta menegakan aturan dengan merazia pedagang petasan yang masih membandel. "Semoga momen Ramadan ini tidak ada yang menjual maupun meledakan petasan," harap dia.

Karena, sesuai UU Darurat dan Pasal 187 KUH Pidana tentang bahan peledak, para pembuat, penjual, penyimpan, dan pengangkut petasan bisa dikenakan hukuman minimal 12 tahun penjara. Bahkan hukuman terberat maksimal kurungan seumur hidup. "Ini karena bahan peledak dapat menimbulkan ledakan, membahayakan orang serta dianggap mengganggu lingkungan masyarakat," tuturnya.

Pihaknya mengharapkan peran serta masyarakat memberikan penyadaran serta melaporkan kepada pihak kepolisian jika di lingkungannya masih ada yang membuat, menjual, menyimpan mau pun menyalakan petasan. Diharapkan, dengan peran serta masyarakat tersebut, mampu menekan adanya kegiatan penyakit masyarakat (pekat) tersebut di seluruh wilayah Wonosobo.


(M Abdul Rohman/CN40/SM Network)