• KANAL BERITA

Tradisi Padusan, Momentum Dongkrak Wisatawan

Wabup M Said Hidayat dan jajaran pejabat melihat aksi ciblon di Umbul Dudo, komplek pemandian Pengging, kemarin. Aksi ciblon dengan mnggerakkan tangan di dalam air untuk menciptakan irama tertentu. (suaramerdeka.com/Joko Murdowo)
Wabup M Said Hidayat dan jajaran pejabat melihat aksi ciblon di Umbul Dudo, komplek pemandian Pengging, kemarin. Aksi ciblon dengan mnggerakkan tangan di dalam air untuk menciptakan irama tertentu. (suaramerdeka.com/Joko Murdowo)

BOYOLALI, suaramerdeka.com - Wabup Boyolali, M Said Hidayat, berharap tradisi padusan, membersihkan diri menjelang puasa, menjadi momentum untuk mendongkrak wisatawan. Harapan itu dikemukakan Wabup saat acara ritual padusan di Umbul Tirtomarto, Pengging, Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, Selasa (15/5).

Ritual diawali dengan kirab anak-anak PAUD dari halaman Kantor Kecamatan Banyudono ke kompleks umbul. Dalam prosesi kirab, Wabup naik andong, disusul sejumlah andong para pejabat Forkopimda Boyolali dan sejumlah pejabat lainnya.

Kirab mendapat sambutan meriah warga yang menonton di pinggir jalan. Sesampai di kompleks umbul, dilakukan siraman terhadap Mas dan Mbak Boyolali oleh Wabup dan Forkopimda. Acara padusan juga meriahkan tarian oleh Duta Seni yang menggambarkan bidadari turun dari kayangan dan mandi di umbul.

Menurut Wabup, padusan berarti mandi, untuk mensucikan diri menjelang bulan puasa. "Mensucikan diri lahir dan batin sebelum puasa, itu makna sesungguhnya dari padusan," tambahnya. 

Pihaknya berharap ritual padusan mendongkrak kegiatan pariwisata di Banyudono dan Boyolali umumnya. Dampaknya, kegiatan ekonomi masyarakat sekitar ikut berkembang melalui usaha warung makan, kerajinan mau pun usaha lain.

Kades Dukuh, Kecamatan Banyudono, Sri Sadono menambahkan, tradisi padusan digelar sejak zaman Walisanga pada masa pemerintahan Kerajaan Demak dan berlanjut hingga Keraton Surakarta.

Umbul Tirto Marto, dulunya digunakan keluarga Keraton dan abdi dalem Keraton Surakarta untuk siram atau mandi menjelang bulan puasa. Pihaknya terus berupaya melestarikan acara hingga sekarang. ‘’Tujuannya untuk mensucikan diri dan hati sebelum menjalankan ibadah puasa. Kami ingin acara ritual ini menjadi destinasi wisata,’’ tambahnya. 

Selain di Umbul Tirto Marto Pengging, tradisi padusan juga digelar di Umbul Tlatar, Kecamatan Boyolali Kota dan Umbul Tirto Mulyo di Kecamatan Sawit. Padusan juga digelar warga secara mandiri, khususnya desa yang memiliki tempat pemandian.

Di Umbul Tlatar, pengunjung tak hanya memanfaatkan ritual padusan di sejumlah umbul yang tersedia di komplek wisata Desa Kebonbimo tersebut. Sebagian juga mengajak anak-anaknya untuk bermain sekaligus mengenal kehidupan satwa air.


(Joko Murdowo/CN40/SM Network)