• KANAL BERITA

Eksistensi Koperasi di Tengah Percaturan Pasar Bebas

Pengurus KUD Bahagia berbicang-bincang dengan petugas Dinkop dan UKM Jateng di kantornya, Desa Gembong, Kecamatan, Gembong, Kabupaten Pati, Selasa (15/5). (suaramerdeka.com/Siswo Ariwibowo)
Pengurus KUD Bahagia berbicang-bincang dengan petugas Dinkop dan UKM Jateng di kantornya, Desa Gembong, Kecamatan, Gembong, Kabupaten Pati, Selasa (15/5). (suaramerdeka.com/Siswo Ariwibowo)

PATI, suaramerdeka.com - Bukan hal mudah bagi Koperasi Unit Desa (KUD) untuk tetap bertahan di tengah percaturan pasar bebas. Apalagi dengan kebijakan pemerintah yang berubah-ubah. Namun, hal itu berbeda dengan KUD Bahagia Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. KUD ini masih eksis. Saat ini anggotanya mencapai 3.600 orang. 

"Berbagai inovasi terus kami lakukan untuk melebarkan sayap seperti, distribusi bahan pokok, unit usaha simpan pinjam dan pembiayaan syariah. Bahkan kini mulai merambah usaha properti," kata Ketua KUD Bahagia, KH Abdul Wahid Hasyim, di kantornya, Desa Gembong, Kecamatan Gembong, Pati, Selasa (15/5).

Menurutnya, inovasi penting dilakukan demi keberlangsungan koperasi. Namun, yang terpenting ialah pola pikir setiap pengurus. "Pegurus tidak berpikir berapa uang yang akan didapat sebelum bekerja. Bekerja dulu baru kalau untung dibagi secara merata," katanya.

Sekretaris KUD Bahagia, Patman mengatakan, kepercayaan anggota dan nasabah yang menyimpan uang di unit usaha simpan pinjam milik KUD Bahagia juga penting. Oleh karena itu, likuiditas unit usaha simpan pinjam selalu dijaga. Hal ini dilakukan agar saat nasabah mengambil simpanan selalu tersedia.

"Ada nasabah yang menyimpan uang sampai Rp 2 miliar. Sewaktu-waktu diambil kami siap, karena faktor kepercayaan," kata Patman.

Aksi Sosial

Dia mengatakan, aset unit usaha ini telah mencapai sekitar Rp 55 miliar. Secara riil, kata Patman, aset KUD Rp 11,2 miliar. "Untuk dana bergulir dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) kami juga mengembalikannya tepat waktu," katanya.

Berbagai program sosial juga dilakukan KUD Bahagia seperti, menyantuni anak yatim, anggota yang sakit serta pembagian zakat. Berikutnya, Koperasi Rukun Artha Santosa (RAS) di Desa Bajomulyo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Koperasi ini berdiri pada 2012 dengan jumlah anggota 725 orang.

"90 persen dari jumlah anggota menggantungkan hidup dari laut," kata Manajer Koperasi RAS, Supi'i.

Koperasi ini juga memiliki aset berupa tiga kapal. Satu kapal berukuran berukuran 99 gross ton (GT) yang biasa melaut ke selat Makassar. Selanjutnya, dua kapal berukuran 159 GT memiliki wilayah penangkapan ikan di laut Arafuru.

"Aturan pemerintah aset kapal minimal 300 gross ton harus dikelola PT, maka kami bentuk PT pada 2012," kata dia.

Koperasi RAS memberi fasilitas pinjaman kepada anggotanya senilai Rp 500 juta untuk keperluan pemasangan alat tangkap rawat dasar. Harapannya, anggota yang mendapat pinjaman bisa berkembang. "Aset yang dimiliki oleh anggotanya dari hasil pinjaman kini mengalami peningkatan," katanya.

Sejak 2015, Supi'i mewanti-wanti agar anggota berpindah ke alat tangkap ramah lingkungan. Untuk mewujudkannya, anggota diperbolehkan meminjam sesuai dengan kebutuhan pergantian alat tangkap ikan.

"Biasanya ngambil di bank Rp 1 miliar, nanti kekurangannya Rp 1.5 miliar kami yang meminjami," katanya.

Terpisah, Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah Bima Kartika mengatakan, keberadaan koperasi mampu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat. Syaratnya penataan manajemen yang transparan. "Konsep koperasi memang bagus, karena bisa memperluas jaringan pemasaran. Selain itu sebagai sarana succes story atas keberhasilannya dalam melakukan usaha," tandasnya.


(Siswo Ariwibowo /CN40/SM Network)