• KANAL BERITA

Ribuan Hiasan Manggar dan Warak Ngendog Padati Simpang Lima

Karnaval Dugderan

Para peserta membawa Warak Ngendog dalam Karnaval Dudgeran untuk siswa yang dimulai dari Lapangan Simpanglima, Senin (14/5). (suaramerdeka.com/Muhammad Arif Prayoga)
Para peserta membawa Warak Ngendog dalam Karnaval Dudgeran untuk siswa yang dimulai dari Lapangan Simpanglima, Senin (14/5). (suaramerdeka.com/Muhammad Arif Prayoga)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Karnaval Dugderan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1439 Hijriyah dimulai Senin (14/5). Ribuan siswa dari berbagai sekolah memadati Lapangan Pancasila, atau dikenal Lapangan Simpanglima, sejak pukul 06.00 WIB. 

Para peserta yang berkumpul membawa ribuan hiasan manggar dan Warak Ngendog. Peserta berpakaian adat, dandanan ala punakawan, penampilan seni budaya dari berbagai daerah, barisan drumband, hingga pasukan pengibar bendera juga ambil bagian. Mereka berjalan keluar lapangan menuju halaman Kantor Pemprov Jateng. 
''Karnaval Dugderan ini merupakan acara unik yang ada di Kota Semarang. Perayaannya dilaksanakan menjelang Ramadan. Tema tahun ini, Dugderan Membangun Kebersamaan dan Kerukunan Mewujudkan Semarang Hebat. Setelah dugderan siswa, besok juga akan digelar dugderan untuk masyarakat umum,'' kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. 

Di sela-sela pembukaan, wali kota yang akrab disapa Hendi, meminta peserta agar mengheningkan cipta sesaat, berkabung atas terjadinya tragedi pengeboman di Surabaya. Dia berharap, hal seperti itu tidak terjadi di Ibu Kota Provinsi Jateng. 

''Kami turut prihatin dan mengutuk tindakan keji orang-orang yang hendak meneror bangsa. Warga Kota Semarang hendaknya mampu meningkatkan kewaspadaan. Bisa dilakukan melalui poskampling maupun koordinasi antara RT dan RW,'' tegas Hendi.

Dia mengingatkan, bagi yang menjalankan puasa, jalankan dengan baik. Tidak perlu marah-marah, sweeping ke warung-warung dan rumah makan. Bagi yang tidak puasa, hendaknya bisa menghormati yang puasa dengan tidak makan di tempat-tempat terbuka. 

Dua Kali

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang, Kasturi, mengatakan, karnaval dugderan diadakan dua kali, yakni di lapangan Pancasila kawasan Simpang Lima pada Senin (14/5) dan Balai Kota pada Selasa (15/5). Karnaval dugderan Simpang Lima diikuti 15.000 peserta dari sekolah-sekolah.

''Terjadi peningkatan peserta dari tahun lalu, yang berjumlah 12.000 peserta. Masing-masing sekolah secara swadaya menampilkan seni budaya. Ini semua dikoordinasi oleh 16 UPTD Pendidikan di Kota Semarang. Kegiatan ini menunjukkan bahwa walaupun berbeda-beda, masyarakat Kota Semarang tetap bisa bersatu,'' ujar dia.

Persatuan dalam perbedaan ini tercermin dengan tema mengenakan warak ngendog. Hewan ini anggota tubuhnya terdiri atas hal yang berbeda-beda mulai badan, kaki, dan kepalanya. Kaki warak ngendog merupakan kaki kambing, badannya seperti buraq, dan berkepala naga.

''Warak Ngendog memiliki makna Wara'a yang berarti suci. Selanjutnya diharapkan dapat menghasilkan amalan-amalan yang baik berupa endog atau telur. Telur memiliki kandungan bergizi sehingga masyarakat diharapkan memiliki perilaku yang baik dan bermanfaat,'' papar dia. 

Sebagaimana penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya, prosesi Dugderan hari kedua akan berlangsung dengan menempuh rute dari halaman Balai Kota, Masjid Agung Kauman, Jolotundo, dan berakhir di Masjid Agung Jateng.

Guna kelancaran kegiatan tersebut, Jalan Pemuda dari arah Paragon sampai dengan Tugu Muda akan ditutup total sejak pukul 14.00 WIB. Sementara ruas jalan yang lain seperti Paragon ke arah Pasar Johar akan ditutup separuh jalan dikarenakan jalur ke arah Pasar Johar dipergunakan untuk pawai. Sedangkan jalur sebaliknya dari arah Pasar Johar tetap dibuka untuk pengguna jalan. 


(Hendra Setiawan/CN40/SM Network)