• KANAL BERITA

Pengusaha Daging Ayam Dirikan Masjid Megah di Sleman

MEGAH: Masjid Suciati yang berasitektur paduan Timur Tengah dengan Jawa berdiri megah di Jalan Gito Gati, Pandowoharjo, Sleman. Masjid ini didirikan seorang pengusaha daging ayam. (Foto suaramerdeka.com/Gading Persada)
MEGAH: Masjid Suciati yang berasitektur paduan Timur Tengah dengan Jawa berdiri megah di Jalan Gito Gati, Pandowoharjo, Sleman. Masjid ini didirikan seorang pengusaha daging ayam. (Foto suaramerdeka.com/Gading Persada)

SLEMAN, suaramerdeka.com - Berawal dari berjualan 5 ekor karkas ayam kampung di Pasar Terban Kota Jogja, kemudian bertansformasi menjadi pengusaha bisnis  ayam pedaging skala nasional, Hj. Suciati Saliman Riyanto Raharjo mewujudkan impiannya sejak kecil dengan mendirikan sebuah masjid. Masjid Suciati pun dengan megah sudah berdiri di Jalan Gito Gati, Pandowoharjo, Sleman.

"Peletakan batu pertama Masjid Suciati dilakukan 2 Agustus 2015 dan tiga tahun kemudian tepatnya kemarin tanggal 13 Mei masjid ini diresmikan untuk digunakan beribadah masyarakat," papar Humas Masjid Suciati, Meigha, Senin (14/5).

Menurut dia, Masjid Suciati didirikan di atas lahan seluas 1.600 m2. Desain masjid merupakan akulturasi atau perpaduan kultur Timur Tengah dengan kultur Jawa. Kultur Timur Tengah tampak dari desain pintu yang berlapis emas di sepanjang tepi pintu yang sama persis dengan pintu Masjid Nabawi di Madinah. Adapun Pintu Masjid Suciati berjumlah 9 buah yang menggambarkan jumlah Wali Songo yang telah menyebarkan agama Islam di tanah jawa. 

"Menara yang tinggi menjulang berjumlah 5 menggambarkan mengenai jumlah waktu sholat dalam satu hari. Menara ini terdiri dari menara induk 1 buah dan menara anak 4 buah. Desain dalam masjid Suciati juga sama dengan Masjid Nabawi di Madinah," papar dia.

Sedangkan Kultur Jawa terlihat dari desain atap yang berbentuk limas. Masjid ini memiliki bedug sebagai penanda waktu salat yang dibuat pengrajin bedug di Cirebon, berukuran panjang 170 cm dengan diameter 130 cm. Terbuat dari Kayu Trembesi utuh berusia 127 tahun  dari Majalengka.  Kulit bedug terbuat dari kulit kerbau jantan. 

"Masjid ini terdiri dari 3 lantai dan basement. Lantai pertama digunakan sebagai Gedung Serbaguna, lantai dua dan tiga untuk sholat berjamaah. Lantai Basement bisa digunakan untuk kegiatan prasmanan, menyimpan perlengkapan dan hal lain yang menunjang kegiatan di Masjid. Harapannya dengan berdirinya masjid Suciati ini bisa sebagai pusat kegiatan ke Islaman masyarakat," jelas dia.

Menurut Meigha, Hj Suciati atau lebih dikenal dengan Ibu Saliman merintis usaha sejak masih SMP pada 1966. Dimulai pemotongan ayam manual di rumah terus berkembang hingga memiliki Rumah Potong Ayam (RPA) modern yang bernama RPA Saliman dengan brand ayam “SR” yang telah tersertifikasi Halal MUI dan NKV (Nomor Kontrol Veteriner) di kawasan Pandowoharjo, Sleman. Lalu, tahun 2009 didirikan RPA Suci Raharjo di Jombang, Jatim dan pada 2014 didirikan lagi PT Sera Food Indonesia yang memproduksi makanan beku (frozen food) melalui brand Hato dan oOye yang telah tersertifikasi Halal MUI dan MD BPOM. 

Kini, lanjut Meigha, baik produk ayam maupun frozen food telah terdistribusi di seluruh Indonesia baik modern maupun tradisional market. Pesatnya perkembangan bisnis ini merupakan perwujudan dari falsafah atau pandangan hidup beliau bahwa Urip Iku Urup yaitu dengan sebanyak-banyaknya memberi manfaat pada orang lain melalui membuka lapangan pekerjaan di Saliman Group. Kini di usia 66 tahun Suciati ingin lebih banyak lagi memberikan manfaat, tidak hanya kepada karyawan tetapi juga kepada segenap masyarakat. 

"Termasuk saat ini merupakan kiprahnya dalam kegiatan sosial keagamaan dengan mendirikan masjid," tandas Meigha. 


(Gading Persada /CN19/SM Network)