• KANAL BERITA

1.000 Kiai Hadiri Halaqoh di Pesantren Al Khasani

HALAQOH KIAI: Para kiai saat mengikuti halaqoh di Pondok Pesantren Al Khasani Desa Jatimulyo, Kecamatan Alian, Kebumen, Minggu (13/5). (suara merdeka.com/Supriyanto)
HALAQOH KIAI: Para kiai saat mengikuti halaqoh di Pondok Pesantren Al Khasani Desa Jatimulyo, Kecamatan Alian, Kebumen, Minggu (13/5). (suara merdeka.com/Supriyanto)

KEBUMEN, suaramerdeka.com - Lebih dari 1.000 kiai pengasuh pondok pesantren maupun pengampu masjid dan mashola se Kabupaten Kebumen menghadiri  halaqoh yang digelar di Pondok Pesantren Al Khasani, Desa Jatimulyo, Kecamatan Alian, Kebumen, Minggu (13/5). Halaqoh yang diprakarsai oleh komunitas Santri Gayeng tersebut menghadirkan pembicara KH Ubab Maimun dari Rembang.

Pertemuan para kiai dan santri tersebut juga dihadiri sejumlah kiai Kebumen seperti KH Raden Rahmat, pengasuh Pondok Pesantren Al Muhajirin wal Ansor Desa Sidogede, Kecamatan Prembun, KH Mukhtar Ghufron pengasuh Pesantren Roudhotut Tholabah dan KH Bahmat Abdul Jalil dari Prembun.

Ketua Panitia Halaqoh KH Agus Masruri menjelaskan, santri gayeng merupakan santri yang menyatakan diri menjadi relawan Ganjar Pronowo dan Taj Yasin menginginkan  peran santri tetap ada untuk kemajuan bangsa dan negara. Ketika wakil dari santri yakni Taj Yasin yang merupakan putra dari ulama kharismatik KH Maimun Zubair maju menjadi wakil Gubernur Jateng santri gayeng siap mengawal.

"Tidak sekadar mengawal sampai jadi, nanti setelah jadi santri akan mengawal program-program utamanya terkait dengan santri," ujar Kiai Agus Masruri.

Terasa istimewa kegiatan itu hadiri oleh Nawal Nur Arafah yang tak lain istri  Cawagub Jateng Taj Yasin. Ning Nawal, sapaan akrabnya, menemui jamaah perempuan yang hadir. Dia mendorong agar perempuan terlibat aktif dalam politik dan menggunakan hal suaranya pada 27 Juni mendatang.

Kontibusi Santri

Pengasuh Pondok Pesantren Al Khasani  Kiai Fahrudin  yang menjadi  tuan rumah, mengungkapkan bahwa dalam  sejarah, kontribusi santri untuk bangsa dan negara sangatlah besar.

Dia mencontohkan, saat mempertahankan kemerdekaan RI, para kiai pesantren memahami dan menerapkan kalimat hubbul wathan minal iman atau cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Sehingga bagi santri akan melakukan apapun untuk mempertahankan kemerdekaan tersebut. Meski harus mengkorbankan nyawa sekalipun.

"Fatwa  resolusi jihad yang dikeluarkan oleh PBNU menjadi titik tolak perjuangan para kiai beserta santri-santrinya," ujar Gus Fahrudin dalam sambutannya.

Lebih lanjut, dia menuturkan, pada 21-22 Oktober, NU mengumpulkan semua kiai dan konsul NU se-Jawa Madura untuk memusyawarahkan tentang sikap yang akan diambil terkait masuknya kembali pasukan Belanda dan sekutu ke Indonesia.

Dari pertemuan tersebut KH Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa fardlu 'ain bagi umat Islam untuk memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia.

"Maka keputusan pemerintah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai hari santri nasional merupakan keputusan yang tepat untuk tidak mengabaikan sejarah tentang peran kaum santri dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan," ujarnya.


(Supriyanto/CN39/SM Network)