• KANAL BERITA

Pesantren Berpotensi Kikis Kesenjangan Ekonomi dan Kemiskinan

Salah satu narasumber memaparkan materi di Pondok Pesantren Sunan Gunungjati Ba'lawi, Jalan Makam Habib Abdullah Bafaqih RT 01 RW 06, Kelurahan Gunungpati, Kecamatan Gunungpati, kemarin. (Siswo Ariwibowo)
Salah satu narasumber memaparkan materi di Pondok Pesantren Sunan Gunungjati Ba'lawi, Jalan Makam Habib Abdullah Bafaqih RT 01 RW 06, Kelurahan Gunungpati, Kecamatan Gunungpati, kemarin. (Siswo Ariwibowo)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Keberadaan pondok pesantren di tengah masyarakat memiliki banyak manfaat. Satu diantaranya, untuk mengikis kesenjangan ekonomi dan kemiskinan. Hal itu dikatakan Khairil Anwar, salah satu narasumber di acara Dialog Interaktif Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Berbasis Pesantren, Kolaborasi Ulama-Umaro-Pesantren-Jamaah-Muslimat yang diselenggarakan Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerja sama dengan Pondok Pesantren Sunan Gunung Jati Ba'alawi (SGJB) Semarang, di halaman Ponpes SGJB, Kampung Malon, Kelurahan Kecamatan Gunungpati.

"Pesantren memilliki potensi besar untuk memberdayakan umat, berperan mengikis kesenjangan ekonomi, serta mengentaskan kemiskinan, khususnya masyarakat di sekitar pesantren," ungkapnya, di lokasi, kemarin.

Menurutnya, program vokasi bagi siswa SMK dan mahasiswa perguruan tinggi adalah penting. Sebab, saat ini angka pengangguran semakin banyak, dari 43 juta angkatan kerja, yang tersalur baru 16 juta di berbagai sektor. Dia mendorong adanya program pengembangan vokasi untuk pesantren. Sebab pola pendidikan pesantren memungkinan menerapkan pola 70 persen praktek dan 30 persen teori. Saat ini jumlah pesantren yang tercatat Kementerian Agama Republik Indonesia sebanyak 28.194 pesantren.

"Khusus di Jawa Tengah, jumlah santri sebanyak 657 ribu orang. Mereka merupakan sasaran program yang sangat tepat untuk dijadikan agen atau mitra pemerintah dalam membangun kemandirian ekonomi rakyat," imbuhnya.

Narasumber lainnya, M Isbayu mengatakan, santri jaman dulu hampir pasti pernah merasakan di dunia pertanian. Mereka terbiasa terlibat dalam pekerjaan bertani, semisal membantu menggarap sawah kiainya, atau ikut orang menjadi buruh tani. Saat ini santri mulai menjadi petani mandiri dan kreatif. Artinya mereka bertani sambil beternak dan berdagang.

"Memelihara hewan ternak, kotorannya untuk memupuk tanaman. Hasil keduanya diolah menjadi produk modern yang diperdagangkan, itu sangat bagus," kata dia.

Sementara Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Ekonomi Kawasan Kementerian Koordinator Perekonomian RI, Hamdan memaparkan, pemerintah terus berupaya mewujudkan kebijakan pemerataan ekonomi melalui kemitraan umat. Program tersebut diwujudkan melalui reformasi agraria dan perhutanan sosial, penataan sistem pajak, pembangunan manufaktur dan teknologi informasi, serta peningkatan kapasitas SDM. Perwujudannya melalui kebijakan vokasi, kewirausahaan, dan kemitraan usaha. Selain itu ada tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, perdagangan dan industri rumahan.

"Penanganan masalah ketimpangan menjadi prioritas kebijakan pemerintah saat ini. Kami menginginkan sektor pertanian ini menjadi andalan solusi," tuturnya. 


(Siswo Ariwibowo /CN40/SM Network)