• KANAL BERITA

Sejumlah Sungai Mengering, PDAM Semarang Berencana Membuat ABT

foto ilustrasi - istimewa
foto ilustrasi - istimewa

SEMARANG, suaramerdeka.com - Hingga pertengahan Mei, krisis air baku untuk menyuplai Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kudu PDAM Tirta Moedal masih terjadi. Hal itu dikarenakan, sejumlah sungai yang digunakan untuk menambah suplai air baku, mengering. 

Beberapa sungai sekitar saluran Klambu-Kudu yang digunakan untuk menambah suplai air, di antaranya Kali Setu, Kali Cabean, dan Kali Dombo lama. Saat ini, kondisi sungai tersebut mengering. Sedangkan Kali Gubug, masih bisa mensuplai 400 liter/detik, namun jaraknya cukup jauh, yakni 25 km dengan saluran Kudu. Sepanjang perjalanan, banyak air yang hilang, sehingga yang sampai di IPA Kudu kurang dari 200 liter/detik. 

''Untuk suplai dari Waduk Klambu masih sekitar 300 liter/detik. Ditambah dari Kali Gubung 200 liter/detik. Total suplai air baku yang masuk ke IPA Kudu masih sekitar 500 liter/detik. Jumlah ini masih setengah yang dibutuhkan IPA Kudu untuk produksi, yakni 900-1.000 liter/detik,'' ujar PJs Dirut PDAM Tirta Moedal, M Farchan. 

Dengan kondisi tersebut, PDAM Tirta Moedal masih memberlakukan sistem giliran untuk mengairi pelanggan di daerah timur. Bantuan 75 tangki air bersih setiap harinya kepada warga terdampak gangguan air pun terus dilakukan, hingga kondisi membaik. 

Sebagai langkah preventif, sambung Farchan, di antaranya membuat sumur Air Bawah Tanah (ABT) di beberapa kawasan perumahan dengan pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Saat ini pihaknya masih mengevaluasi titik-titik lokasi dan jumlahnya. 

''Kami juga akan mengoperasikan mobil IPA. Nantinya mobil tersebut akan ditempatkan di sumur warga, sehingga air yang diolah bisa langsung siap untuk dikonsumsi. Jumlahnya memang baru satu, nanti akan kami maksimalkan untuk daerah yang kekurangan air,'' tambahnya. 

Panggil Kepala Desa

Terkait krisis air baku di IPA Kudu, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, Perum Jasa Tirta sebagai penyedia air baku untuk IPA Kudu, dan juga PDAM Tirta Moedal akan duduk bersama. Dalam rapat yang digelar di Kantor BBWS Pemali-Juana, Senin (14/5), juga akan mengundang tujuh kepala desa yang daerahnya dilewati saluran Klambu-Kudu. 

Tujuh kepala desa tersebut, yakni Kepala Desa Werdoyo, Mijen, Gubug, Tegowanu, Bumirejo, Waru, dan Wringin Jajar. Dalam pertemuan tersebut, akan dijelaskan, bahwa sedang ada normalisasi saluran Klambu-Kudu sepanjang 47 km. Di samping itu, juga ada kerusakan turbin di Waduk Kedungombo, sehingga suplai tidak maksimal. 

Sebelumnya, Kepala BBWS Pemali-Juana, Ruhban Ruzzityanto mengatakan, saat ini memang sedang ada pekerjaan normalisasi saluran air dari Waduk Klambu ke IPA Kudu. Saat dinormalisasi, dibuatkan saluran alternatif, namun debitnya hanya 300 liter/detik, dari saluran utama sebesar 900 liter/detik. 

Normalisasi saluran dari Waduk Klambu ke IPA Kudu akan berlangsung hingga 2019. Anggaran untuk normalisasi tersebut sebesar Rp 400 miliar yang dikucurkan bertahap. Sebesar Rp 200 miliar untuk tahap pertama dan Rp 200 miliar untuk tahap kedua. 

Alasan normalisasi yakni sedimentasi yang tinggi di aliran tersebut. Ruhban mengungkapkan, awalnya saluran sepanjang 47 km tersebut didesain untuk bisa mengalirkan air baku sebanyak 3.500 liter/detik. Namun karena penyempitan dan sedimentasi, hanya dapat mengalirkan 1.300 liter/detik. 

''Itu pun, saat sampai di IPA Kudu, kapasitas airnya hanya 900 liter/detik. Karena itu, kami menormalisasi saluran tersebut, sehingga kembali dapat mengalirkan air sebanyak 3.500 liter/detik. Selama normalisasi, kami akan membantu pompa 1.000 liter/detik,'' ungkapnya. 


(Hendra Setiawan/CN40/SM Network)