• KANAL BERITA

Pengurus IDI Jateng yang Baru DIharapkan Dorong Perbaikan Sistem JKN

Foto: Ketua IDI Wilayah Jateng, Dr Djoko Handojo SpB(K) Onk FICS (kiri) memberikan keterangan pers disela-sela Pelantikan Pengurus IDI Wilayah Jateng Periode 2018-2021 di Hotel Gumaya Semarang, Sabtu (12/5). (suaramerdeka.com/Eko Fataip)
Foto: Ketua IDI Wilayah Jateng, Dr Djoko Handojo SpB(K) Onk FICS (kiri) memberikan keterangan pers disela-sela Pelantikan Pengurus IDI Wilayah Jateng Periode 2018-2021 di Hotel Gumaya Semarang, Sabtu (12/5). (suaramerdeka.com/Eko Fataip)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mendorong upaya perbaikan sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), terutama dalam hal pelayanan. Ketua Pengurus Besar (PB) IDI, Prof Ilham Oetama SpOG mengatakan, selain sistem JKN, IDI juga memiliki kewajiban mendorong sistem pendidikan kedokteran yang mampu menjawab sisi pelayanan kesehatan.

"Kami harus membuat konsep yang baik untuk sistem JKN, terutama dalam hal pelayanan," kata Ilham saat menghadiri Pelantikan Pengurus IDI Wilayah Jateng Periode 2018-2021 di Hotel Gumaya Semarang, Sabtu (12/5).

Ilham mengakui, pendidikan kedokteran di Indonesia sementara ini tertinggal dengan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Filipina, terutama yang berkaitan dengan teknologi. Tantangan pada era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) juga menuntut kualitas dokter lebih meningkat, agar mampu bersaing dengan dokter asing.

"Sekarang kami sudah mencapai pendidikan dengan standar nasional, lalu akan masuk ke tingkat ASEAN. Untuk itu, standar kompetensi dan pendidikan harus meningkat, agar setara dengan negara ASEAN, terutama ketiga negara itu," sebutnya.

Sementara itu, Ketua IDI Wilayah Jateng, Dr Djoko Handojo SpB(K) Onk FICS mengemukakan, era JKN saat ini menuntut adanya peningkatan mutu dan kualitas pelayanan kesehatan. Pada sisi lain, dia mengakui untuk mencapai tujuan itu terdapat kendala sekaligus tantangan, terutama dalam hal alokasi pembiayaan.

"Bagaimana kami bisa menjalankan sumpah dokter dengan keterbatasan, terutama dalam hal pembiayaan. Standar pendidikan dokter yang kami dapat, tidak bisa kami jalankan. Akibatnya pelayanan terhadap masyarakat menjadi tidak baik karena keterbatasan itu," ujarnya.

Menurut Djoko, kondisi demikian erat berkaitan dengan sarana prasarana di lembaga pelayanan kesehatan, termasuk fasilitas tingkat pertama. Dia mencontohkan, sebagian besar Puskesmas belum memiliki alat kesehatan yang diperlukan dokter guna mendiagnosis penyakit yang dialami pasien.

"Itu mengakibatkan kami kerap dituduh malapraktik, padahal tidak mungkin seorang dokter ingin mencederai pasien. Pada prinsipnya dokter itu menyehatkan pasien, bukan menyembuhkan. Sembuh atau tidak adalah kehendak Tuhan, artinya kami mengupayakan cara pengobatan yang terbaik," jelasnya.

Djoko Handojo dilantik sebagai Ketua IDI Wilayah Jateng Periode 2018-2021. Penetapan ini sesuai Surat Keputusan PB IDI No 02014/PB/4, 4/04/2018 tertanggal 5 April 2018 tentang Pengesahan Susunan Personalia Pengurus IDI Wilayah Jateng. 


(Eko Fataip/CN42/SM Network)