• KANAL BERITA

Ratusan Pendaki Berhamburan Turun

Letusan Freaktik Merapi Kagetkan Warga

PNS lingkup Setda Boyolali melihat kepulan asap Merapi membubung dari depan Masjid Ageng Komplek Setda, kemarin. (suaramerdeka.com/Joko Murdowo)
PNS lingkup Setda Boyolali melihat kepulan asap Merapi membubung dari depan Masjid Ageng Komplek Setda, kemarin. (suaramerdeka.com/Joko Murdowo)

BOYOLALI, suaramerdeka.com - Letusan freaktik Gunung Merapi, Jumat (11/5) pagi, membuat warga Selo baik yang di rumah mau pun yang bekerja di sawah-ladang, panik. Demikian pula ratusan pendaki Gunung Merapi berhamburan dan berlarian turun, menyusul bunyi dentuman keras, gemuruh, dan mengelegar.

Letusan freatik merupakan letusan gas atau embusan asap dan material yang dipicu oleh tekanan gas dalam perut gunung berapi yang mengeluarkan dentuman keras. Warga Selo sudah terbiasa dengan suara dentuman itu, meski berhamburan, namun tetap tenang. Para perani pun segera meninggalkan sawah-ladang, kembali ke rumah.

Sementara ratusan pendaki panik. Mereka langsung berhamburan turun untuk menyelamatkan diri. Para pendaki waswas terjadi erupsi besar. Awalnya, pendaki kaget mendengar suara berdentam keras dan mereka belum menyadari. ‘’Saat ini ratusan pendaki di kawasan puncak masih belum bereaksi,’’ ujar Fikih (19) salah satu pendaki asal Solo.

Namun, begitu melihat asap pekat keluar membubung tinggi dari kawah, para pendaki baru menyadari bahwa Gunung Merapi meletus. ’’Langsung saja, para pendaki berlari turun. Kami tak tahu pasti jumlah pendakinya, namun mencapai ratusan orang,’’ jelanya. 

Kepala BPBD Boyolali, Bambang Sinungharjo mengatakan, saat Gunung Merapi mengeluarkan asap, tercatat 160 pendaki masih di puncak. Pihaknya bersama dinas terkait dan sukarelawan langsung bergerak membantu para pendaki.

Kondisi Aman

Sementara warga di sekitar Gunung Merapi, tampaknya sudah terbiasa. Kepanikan hanya berlangsung tidak lama. Saat ledakan berhenti, warga pun kembali tenang. Jajaran terkait, baik dari TNI/Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), SAR dan sukarelawan pun langsung melakukan pemantauan.

Menurut Ismadi (45) warga Desa/Kecamatan Selo, dia dan warga lainnya kaget karena mendengar suara bergemuruh sangat keras dari puncak Merapi. Suara itu kemudian diikuti munculnya asap membubung tinggi mengarah ke selatan.

‘’Saya dan warga sempat panik karena mendengar suara berdentam sangat keras sekitar pukul 07.15. Apalagi warga masih trauma erupsi tahun 2010 lalu,’’ katanya.

Kurniawan Fajar Prasetyo, Komandan SAR yang juga Kasubid Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali mengungkapkan, begitu mendengar adanya letusan freaktik tersebut, pihaknya langsung menggerakkan tim SAR dan relawan guna melakukan pemantauan.

‘’Anggota disebar ke tiga wilayah kecamatan, Selo, Cepogo dan Musuk. Saya sendiri turut memantau langsung di Dukuh Stabelan, Desa Tlogolele, Selo,’’ jelasnya. 

Dari pantauan, warga sempat merasa was was. ‘’Namun setelah dipastikan aman, warga pun kembali tenang. Hanya saja, mereka diimbau tetap waspada. Kami juga terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan jajaran terkait,’’ tambahnya. 

Tokoh masyarakat Cepogo, Masruri mengaku, kondisi warga di wilayah Cepogo tenang meski pun tetap waspada. Warga juga tetap beraktivitas seperti biasa seperti bekerja di ladang mau pun berangat ke pasar.

Bambang mengungkapkan, masyarakat Kecamatan Selo yang tinggal di desa terdekat puncak Merapi, yaitu Desa, Tlogolele, Klakah dan Jrakah tidak terdampak. Hanya saja, mereka sempat kaget mendengar suara dentuman keras. ‘’Masyarakat agak kaget saja. Namun kami sudah koordinasi, ternyata masyarakat sudah beraktifitas seperti biasa,’’ tegasnya. 


(Joko Murdowo/CN40/SM Network)