• KANAL BERITA

Produksi Cabai Kulonprogo Ditarget 18.543 Ton

Anggota Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, coba traktor roda empat dalam penyerahkan bantuan aspirasi delapan unit traktor roda empat di Kelompok Tani Gisik Pranaji, Pedukuhan II, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan. (suaramerdeka.com/Panuju Triangga)
Anggota Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, coba traktor roda empat dalam penyerahkan bantuan aspirasi delapan unit traktor roda empat di Kelompok Tani Gisik Pranaji, Pedukuhan II, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan. (suaramerdeka.com/Panuju Triangga)

KULONPROGO, suaramerdeka.com – Pemerintah Kabupaten Kulonprogo menargetkan produksi cabai tahun 2018 ini mencapai 18.543 ton. Cabai merupakan salah satu komoditas yang mempengaruhi angka inflasi, sehingga komoditas ini mendapat perhatian yang lebih dari pemerintah.

Wakil Bupati Kulonprogo, Sutedjo mengatakan, cabai merupakan salah satu komoditas unggulan dan andalan di Kabupaten Kulonprogo. Pada 2016 luas tanam mencapai 1.986 Hektare (Ha), sedangkan pada  2017 seluas 1.939 Hektare.

Ada pun luas panen 2016 seluas 2.243 Hektare dengan produksi sebesar 10.630 ton dan luas panen 2017 seluas 1.951 Hektare dengan produksi 20.184,8 ton. Tahun 2017 terjadi penurunan luas panen cabai, dikarenakan adanya bencana banjir yang menyebabkan beberapa lahan cabai tergenang dan puso seluas sekitar 170 Hektare.

“Dengan harga jual rata-rata Rp 15.000 per kilo gram  produksi cabai tersebut telah memberikan keuntungan yang besar bagi petani cabai,” kata Sutedjo, dalam temu tani dan penyerahan bantuan aspirasi traktor roda empat di Kelompok Tani Gisik Pranaji, Pedukuhan II, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Jumat (11/5).

Untuk 2018 ini ditargetkan luas tanam cabai seluas 2050 Ha dengan produksi 18.543 ton. Hingga akhir April, luas tanam mencapai 656 Hektare. Sedangkan luas panen pada bulan Mei ini sekitar 300 Hektare dan pada bulan Juni sekitar 350 hingga 400 Hektare dengan  produksi sekitar 7.942 ton.

“Dengan luas panen tersebut harapan kami Kabupaten Kulonprogo bisa menyumbang kebutuhan cabai saat bulan puasa sampai dengan lebaran tahun 2018 ini,” katanya.

Menurut Sutedjo, komoditas cabai menjadi salah satu komoditas yang mempengaruhi angka inflasi, sehingga komoditas ini mendapat perhatian yang lebih dari Kementerian Pertanian. Pada tahun 2018 ini Pemkab Kulonprogo mendapat alokasi kegiatan pengembangan cabai seluas 75 hektare yang terdiri dari 50 Hektare cabai besar dan 25 Hektare cabai rawit melalui Dinas Pertanian dan Pangan dari Anggaran APBN Tugas Pembantuan Hortikultura. Di samping itu dari APBD Kulonprogo juga ada kegiatan yang bisa dimanfaatkan oleh petani cabai,  yaitu kegiatan gerakan pengendalian OPT Hortikultura.

Kendala atau permasalahan yang sering dihadapi oleh petani cabai antara lain fluktuasi harga yang cukup tinggi, serangan hama penyakit dan factor cuaca. Namun itu semua tidak menyurutkan semangat para petani cabai di wilayah Kulonprogo, khususnya di Kecamatan Panjatan untuk selalu menanam cabai.

“Kami sangat mengapresiasi semangat para petani cabai di Panjatan khususnya dan Kulonprogo pada umumnya. Sehingga harapan kami target luas tanam cabai pada tahun 2018 seluas 2050 Ha dengan produksi 18.543 ton bisa tercapai,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu Anggota Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, menyerahkan bantuan aspirasi berupa delapan unit traktor roda empat kepada kelompok-kelompok tani cabai. Titiek sangat mengapresiasi para petani cabai di Kulonprogo yang dinilai sangat berhasil.

“Di Kulonpogo ini penanaman cabai sangat berhasil, di tanah pasir bisa menghasilkan cabai yang luar biasa banyak dan bisa menjadi percontohan untuk kabupaten-kabupaten lain di seluruh Indonesia,” katanya.

Titiek juga menilai positif adanya sistem pasar lelang cabai di Kulonprogo. Sehingga bisa memberikan harga yang terbaik bagi petani. Selama ini produksi cabai dari Kulonprogo juga dikirim ke pasar induk Jakarta bahkan hingga luar Jawa yakni ke Jambi dan Palembang.

“Hasilnya luar biasa, per hektare bisa memberikan keuntungan 100 juta lebih bagi para petani cabai. Sebelum ada pasar lelang mereka tidak bisa menentukan harga, diambil tengkulak, bahkan ada yang dibeli secara ijon. Kalau lelang kan siapa yang berani beli dengan harga tertinggi,” imbuhnya. 
 


(Panuju Triangga/CN40/SM Network)