• KANAL BERITA

Miras Ilegal Lebih Banyak Dikonsumsi Pemuda Penghasilan Rendah

foto: Istimewa
foto: Istimewa

BANDUNG, suaramerdeka.com - Hasil penelitian menunjukan bahwa pemuda laki-laki dengan tingkat penghasilan rendah adalah mereka yang hampir secara rutin mengonsumsi alkohol ilegal. Mereka relatif mendapatkan barang itu dengan murah di warung-warung tidak berizin yang merupakan pemasok utama pemuda laki-laki yang di antaranya pelajar dan mahasiswa. Harganya pun murah.

Sebenarnya, volume alkohol yang dikonsumsi orang Indonesia jauh lebih sedikit dibanding negara lain. Volume penjualan per kapita tahunan lokalnya hanya 2,26 liter. Bandingkan dengan Thailand (47,63 liter) dan Turki (15,88 liter).

Kondisi tersebut dipaparkan peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Hizkia Respatiadi dan Sugianto Tandra yang secara khusus meneliti miras oplosan, studi kasus Kota Bandung eperti keterangan yang diterima kemarin.

"Justru masalahnya apa yang dikonsumsi masyarakat. Ancaman serius bagi pemuda kita adalah oplosan, jenis alkohol ilegal yang mengandung bahan tak layak konsumsi seperti krim anti nyamuk, pil sakit kepala, dan cairan baterai," katanya.

Sudah begitu, mereka melakukannya tanpa dibekali pengetahuan yang cukup atas miras ilegal. Pasalnya, selama ini, penyebaran informasi mengenai bahaya konsumsi nyaris tak pernah dilakukan termasuk sekolah maupun universitas.

Karena itu sudah waktunya, situasi tersebut diakhiri. Mesti ada upaya bersama pemerintah ormas, perguruan tinggi, hingga orang tua untuk memberikan pengetahuan mengenai bahaya mengonsumsi. Terlebih korban berjatuhan semakin banyak.

Dalam kurun waktu 5 tahun, pada 2008-2012, tercatat ada 156 laporan kematian akibat miras ilegal di Indonesia. Lima tahun berikutnya, 2013-2017, situasinya naik dua kali lipat yakni 587. Ditambah kasus Cicalengka, total korban tewas mencapai 684 jiwa.

"Kampanye itu tidak hanya mengangkat isu konsumsi alkohol di bawah umur, tapi juga konsumsi alkohol ilegal seperti oplosan," tandasnya.

Untuk mengatasi persoalan miras oplosan, sinergi di antara elemen masyarakat merupakan kebutuhan. Selain itu, masyarakat perlu dilibatkan dalam melakukan pengawasan berbasis teknologi informasi seperti aplikasi di handphone di antaranya dalam pelaporan tindakan penjualan miras dengan melindungi pelapornya.

Kedua peneliti itu juga mengingatkan bahwa penelitian kasus miras di Bandung menunjukan perlunya pendekatam regulasi yang tepat. Pasalnya, kebijakan yang mengatur kebijakan alkohol ternyata tak mampu mencegah jatuhnya korban.

"Kawasan Bandung Raya misalnya yang melarang penjualan minuman beralkohol di wilayahnya ternyata jumlah kematiannya terutama miras oplosan 5 kali lebih tinggi dari kasus nasional," kata Hizkia dan Sugianto.


(Setiady Dwi/CN34/SM Network)