• KANAL BERITA

Kapolda: Polisi Tak Gentar Teroris

Kapolda Jawa Tengah, Irjen pol Condro Kirono, melayat ke rumah duka almarhum Brigadir Luar Biasa Anumerta Fandy Setio Nugroho di Perum Korpri Ngembik, Kramat Utara, Magelang Utara.(suaramerdeka.com/MH Habib Shaleh)
Kapolda Jawa Tengah, Irjen pol Condro Kirono, melayat ke rumah duka almarhum Brigadir Luar Biasa Anumerta Fandy Setio Nugroho di Perum Korpri Ngembik, Kramat Utara, Magelang Utara.(suaramerdeka.com/MH Habib Shaleh)

MAGELANG, suaramerdeka.com - Kapolda Jawa Tengah, Irjen pol Condro Kirono menyatakan, kematian lima personel Brimob dalam kerusuhan napi teroris di Rutan Mako Brimob, Depok tidak akan menyurutkan semangat Polri dalam memberantas terorisme.

Kapolda mengatakan, gugur dalam tugas sudah merupakan risiko yang harus dihadapi polisi. Ia pun memastikan Polri tidak akan pernah gentar melawan terorisme dan kejahatan lainnya. "Ini sudah risiko tugas dan hal ini tidak akan membuat kita gentar," kata Condro.

Pernyataan tegas ini disampaikan Irjen Condro saat melayat ke rumah duka almarhum Brigadir Luar Biasa Anumerta Fandy Setio Nugroho di Perum Korpri Ngembik, Kramat Utara, Magelang Utara, Kota Magelang, Kamis sore.

Fandy meninggal akibat kerusuhan napi terorisme di Mako Brimob Depok. Korban lain yang dikebumikan di Jawa Tengah adalah Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji Siswanto dimakamkan di Bumiayu, Banyumas, kemudian Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas dan Briptu Syukron di Kebumen. 

Disebutkan ketiga anggota Densus 88 asal Jateng tersebut merupakan anggota Polri terbaik. "Saya memimpin langsung pemakaman di Bumiayu, Wakapolda di Kebumen dan Pak Irwasda di Magelang. Mereka merupakan putra-putra terbaik Polri,” ujar Condro.

Mantan Kapolresta Yogyakarta tersebut mengaku, sangat berduka cita atas musibah yang menimpa lima personel polisi. Untuk itu, ia pun melayat guna menyampaikan bela sungkawa secara langsung kepada keluarga korban. 

Belajar dari pengalaman napi terorisme di Mako Brimob ini, Condro menyatakan, Polda Jawa Tengah akan meningkatkan pengamanan. Untuk itu, Polda Jawa Tengah akan segera berkomunikasi dengan Kementerian Hukum dan HAM terkait pengamanan napi terorisme di Lapas di Jawa Tengah.

"Kami akan berkomunikasi dengan Kemenhum HAM soal berapa personel yang dibutuhkan untuk BKO pengamanan lapas yang ada napi teror. Tentunya pengamanan nanti bersama personel keamanan lapas,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu tetangga almarhum Fandy, Wahyono (65) mengaku sempat bertemu dengan korban saat pulang ke Magelang dua minggu lalu. Saat itu, almarhum pulang bersama dengan anak dan istrinya.

Disebutkan saat itu tidak ada firasat apa-apa. Korban bahkan sempat mentraktir mie ayam teman-teman sebayanya di kampung. "Dia mengajak teman-teman sebayanya makan mie ayam. Dia memang anak baik,” tutur Wahyono, yang rumahnya berhadap-hadapan dengan rumah orang tua almarhum Fandy.

Tetangga lainnya, Maryanto (66) menceritakan, almarhum Fandy sempat kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta sebelum masuk anggota Polri dan berdinas di Detasemen Khusus 88 Anti Terorisme. Meski bertugas di Jakarta, Fandy termasuk rajin pulang ke Magelang untuk bersilaturahmi dengan kedua orang tuanya Rumpoko-Djumiati

"Almarhum masuk polisi tahun 2011. Dia sosok yang baik dan bertanggung jawab. Kami merasa sangat kehilangan. Tiap Lebaran juga pulang. Dia anak baik dan berbakti kepada orang tua,” puji Maryanto. 


(MH Habib Shaleh/CN40/SM Network)