• KANAL BERITA

Europe di Boyolali: I'm Not Superstitious!

Oleh Bambang Isti

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

KABAR bakal tampilnya Europe Boyolali, Jawa Tengah, menimbulkan banyak pertanyaan di benak saya. Apakah band asal Swedia itu masih "santun" seperti saat saya saksikan di Ancol Jakarta awal tahun 90 an silam? Apakah mereka masih setia dengan performa glam-rock seperti saat debutnya pada akhir tahun 80-an? Rambut blonde tergerai dengan tampang-tampang manis?
 

Europe memang terlalu melodius untuk band pengusung hard rock. Lagu-lagu yang mencetak hits dunia adalah cermin perjalanan band ini yang lurus-lurus saja, nyaris jauh dari gosip-gosip miring personelnya. Tak ada kontroversi non musikal, kecuali sedikit perpecahan ketika gitaris andalan mereka John Norum memilih keluar karena perbedaan visi dengan personel lainnya.

Jika Europe akan tampil kembali di Indonesia, saya semakin penasaran, karena sejak di Jakarta lebih dari 20 tahun silam, terbetik kabar band ini guncang, dan menyatakan mundur (sementara) dari gebyak konser dunia, menyusul gempuran musik grunge dan menyingkirkan genre hard rock.

Sepertinya saat tampil di Jakarta waktu itu pun, formasi Europe tidak sedigdaya formasi klasik diawal debutnya dulu, yakni Joey Tempest (vokal), John Norum (gitar), Jon Leven (bas), Mic Micheli (kibor),  dan Ian Haugland (drum). Karena "cap dagang" Europe yakni gitaris John Norum saat itu mengundurkan diri, dan posisinya digantikan Kee Marcelo.  

Penonton Europe di Jakarta saat itu tak sebanyak yang kita bayangkan. Tak lebih dari 3.000 orang. Ini beralasan karena waktu itu cukup banyak bintang dunia yang datang berurutan tampil di Jakarta, yakni Mick Jagger, Steve Wonder dan Phil Collins.  

Sampai sekarang (sejak konser terakhirnya Maret 2018 di Vina Del Mar di Chili) Europe cukup banyak mengalami transformasi, termasuk penampilan fisik mereka yang sudah kendur dan perut membuncit karena berumur. Sejak dibentuk tahun 1979, sebenarnya mereka - tanpa disadari banyak orang - adalah pewaris fenomena glitter-rock, yang dipopulerkan banyak penyanyi seperti Gary Glitter atau sebelumnya David Bowie. Fenomena yang sering juga disebut glam-rock adalah pengutamakan penampilan panggug yang glamour, terutama dari segi kostum, tata cahaya dan aksi panggung.

Lantai dansa

Sama seperti band-band hard rock tahun 70-80 an kostum panggung menjadi perhatian khusus dalam membentuk sebuah performa panggung yang memagnet. Namun glamoritas yang ditampilkan Europe ini tidak berlangsung lama. Seiring dengan perjalanan waktu, mereka lebih mengutamakan musikalitas, dengan memasukkannya unsur kibor dengan sound pianistik sebagai pemanis.

Dua album debutan, yakni Europe (1982) dan Wings of Tommorrow (1984) membuat mereka dipenuhi dengan jadwal tur dunia yang melelahkan termasuk mampiir di Jakarta. Itu dilakukan sampai album ketiga The Final Countdown (1986).

Lagu The Final Countdown sangat mendunia, merangsek bahkan sampai ke lantai-lantai dansa klub diskotek di Indonesia yang memacak lagu ini sebagai tema show-time. Jujur saja, lagu ini jauh dari teknis musikal yang njelimet dan distorsif, bahkan terlalu melodius dengam riff (pharasing pendek yang diulang-ulang) dari kibor yang mudah dipahami. 

Tak urung, album The Final Coundown pun merajai tangga lagu nomor satu di 26 negara, termasuk Indonesia. albumnya terjual 65 juta kopi dengan lagu-lagu manis dan easy listening seperti Carrie, Cherokee atau Rock The Night.

Ciri yang sama juga terdapat pada album ke empat Out of The World dengan hit Superstitisous. Album ke lima Prisoners of Paradise pun meluncur, tapi penjualannya merosot hanya satu juta kopi saja. Sampai pada masa reuni, Europe pada 2003 merilis Start from The Dark. Untungnya album ini disambut baik oleh penggemarnya dengan konsep musik yang lebih garang, sangat berbeda dengan saat mereka tampil di debut awal.

Tahun 2012 album Bag of Bones meluncur dengan warna musik hard rock yang murni, hal itu dilakukan juga pada album terakhirnya War of King (2016).

Penampilan Europe di Boyolali barangkali hanya sebagai pengulang ekstase para penggemarnya yang kini sudah berusia lebih dari separo baya. Bagi Joey Tempest dan yang tentu sangat sulit untuk mengembalikan kajayaan masa lalu. Tapi untuk kelangenan, Europe masih cukup menghibur. Ya, I'm not superstitious!  


(Bambang Isti/CN41/SM Network)