• KANAL BERITA

HUT YPAC ke-64, Siswa SLB Tampilkan Pertunjukkan Seni

MENAMPILKAN KESENIAN : Sejumlah siswa SLB YPAC menampilkan pertunjukkan seni pada acara peringatan hari ulang tahun ke-64 yayasan tersebut di Gedung Wisma Bhakti YPAC, Jalan KH Ahmad Dahlan Nomor 4 Semarang, Rabu (9/5). (Foto: suaramerdeka.com/Cun Cahya)
MENAMPILKAN KESENIAN : Sejumlah siswa SLB YPAC menampilkan pertunjukkan seni pada acara peringatan hari ulang tahun ke-64 yayasan tersebut di Gedung Wisma Bhakti YPAC, Jalan KH Ahmad Dahlan Nomor 4 Semarang, Rabu (9/5). (Foto: suaramerdeka.com/Cun Cahya)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Pertunjukkan seni dan bakat musik ditampilkan sejumlah siswa SLB di Gedung Wisma Bhakti, Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) Semarang, Jalan KH Ahmad Dahlan Nomor 4, Rabu (9/5).

Pada acara peringatan HUT YPAC ke-64 itu, apresiasi diberikan kepada anak didik yang berprestasi. Selain itu, penghargaan juga diberikan kepada karyawan yang sudah mengabdi selama 25 tahun.

Ketua Umum YPAC Semarang, Murtiningsih Dimulyo menyatakan, kendala yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan tenaga terapis. Dari empat jenis rehabilitasi medis, hanya terapi musik dan fisioterapi yang mencukupi. Sementara untuk terapi wicara dan terapi okupasi, masih kekurangan.

"Idealnya satu jenis terapi ada dua tenaga terapis. SDM (sumber daya manusia) yang ada sementara ini, sifatnya hanya membantu atau asisten terpais," kata Dimulyo di sela-sela acara, Rabu (9/5).

Jumlah SDM yang dimiliki saat ini berjumlah 85 orang, meliputi tenaga pengajar dan karyawan. Sebanyak 23 di antaranya berstatus guru Pegawai Negeri Sipil (PNS). 

"Untuk jumlah anak didik SLB C ada 132 siswa, SLB D 83 siswa dan pravokasional sebanyak 16 siswa," sebutnya.

Pada seminar sebelumnya, dokter spesialis anak RSUP Dr Kariadi Semarang, dr Bambang Sudarmanto SpA(K) MARS mengungkapkan, pertumbuhan dan perkembangan anak ditentukan pada seribu hari pertama sejak menjalani kehidupan. Artinya, dimulai sejak anak di dalam kandungan hingga dua tahun setelah dilahirkan.

"Orang tua juga harus melatih anak sesuai tahapan perkembangan. Tidak memberikan hadiah maupun hukuman, tetapi melakukan pendampingan," paparnya.

Sementara Dokter spesialis gizi klinik, dr Febe Christianto SpGK menambahkan, kebutuhan nutrisi anak difabel dengan anak normal pada dasarnya tidak jauh berbeda. Namun, khusus anak yang tidak banyak aktivitas atau yang lama berada di kursi roda, jumlah kalorinya tidak bisa disamakan.


(Eko Fataip/CN41/SM Network)