• KANAL BERITA

'Mikrofon Pelunas Utang': Usaha Keras untuk Mengubah Nasib

Salah satu sesi pengambilan gambar VT (video testimony) 'Mikrofon Pelunas Utang' (fFoto: dok)
Salah satu sesi pengambilan gambar VT (video testimony) 'Mikrofon Pelunas Utang' (fFoto: dok)

ACARA reality show 'Mikrofon Pelunas Utang' (MPU) yang masih menjadi unggulan stasion INDOSIAR, memecah mitos, bahwa menyanyi hanya bisa dilakukan sebagian orang yang berbakat. Tapi melalui program MPU bisa terbukti, bahwa semua orang dari berbagai strata sosial pun bisa bernyanyi dan bahkan tampil di atas panggung bertabur cahaya.
 

Program reality Mikrofon memang tidak menguji ketrampilan menyanyi, karena yang lebih menentukan kalah dan menang adalah keberuntungan sang kontestan. Jika kontesten beruntung "menemukan" mikrofon yang dalam posisi "on" maka dialah yang berhak menjadi pemenang, dan semua utangnya terlunasi.

Semakin banyak berutang, jumlah mikrofon yang bisa dipilih tersedia di pangung makin banyak. Berarti tingkat kesulitan juga semakin banyak.

Piutang yang dimaksudkan di sini adalah pinjaman yang sifatnya untuk keperluan primer, misalnya biaya pengobatan atau biaya sekolah, dan bukan piutang untuk kebutuhan sekunder. Untuk memilih peserta kontestan tentu kerja keras tim survei dibutuhkan untuk mencari calon kontestan yang benar-benar memenuhi kriteria itu.

MPU disajikan pada petang hari yakni pada jam-jam mendekati prime time secara simultan setiap hari (striping). Yang menarik dari program ini adalah ditampilkannya peserta yang nasibnya kurang beruntung karena dililit utang hingga jutaan rupiah. Mereka harus menjadi "penyanyi". Tapi mereka belum tentu menemukan mikrofon yang bisa menggaungkan suaranya. Ini keberuntungan itu diuji.

Berubah format

Sejak ditampilkan pertamakali setahun lalu, MPU kini berubah format. Jika selama ini sesi pencarian pemenang disiarankan secara 'live' tapi kali ini menggunakan cara perekaman (taping). Meski begitu tingkat keseruan tetap terjaga.

Peserta tidak hanya dilunasi utangnya namun juga diwujudkan mimpi mereka untuk agar melanjutkan hidup mereka dengan lebih baik dan terbebas dari utang.

Elemen kekuatan dalam MPU format baru ini tidak hanya tidak hanya bagaimana potret kerja keras pantang menyerah namun juga ada berbagai macam mimpi yang akan diwujudkan,

Jika selama ini tayangan MPU disaksikan oleh pemirsa menjadi sebuah reality yang mengharukan, ternyata di balik itu ada sebuah sesi yang tak kalah mengharukan, yakni saat tim penyeleksi melakukan audisi calon kontestan. "Ya, tentu kami perlu melakukan seleksi ketat untuk menilai calon peserta yang datang dengan membawa bukti-piutangnya," kata Landung Y Saptoto, produser Dreamlight World Media (DWM).

Audisi calon kontestan diselenggarakan di studio DWM, Ungaran Kabupaten Semarang. Hampir setiap hari kedatangan para calon peserta dengan berbagai latar profesi. Mereka misalnya dari kalangan disabilitas (cacat netra dan cacat fisik), tukang parkir, buruh, petani, pekerja serabutan bahkan anak sekolah yang ingin membantu keluarganya.

Pada sesi audisi ini pun suasana keharuan sudah muncul. Wawancara dibutuhkan untuk mengorek lebih dalam latar keluarga. Tim Dreamlight mulai melalukan pengambilan beberapa sesi video testimony (VT) dari saat berangkat ke Jakarta hingga penyerahan hadiah. Tahap berikutnya adalah penentuan kontestan apakah lolos atau tidak (diputuskan oleh INDOSIAR).

"Itu sebabnya, tim kami harus mengikuti perjalanan mereka dari tahap ke tahap," lanjut Landung Y Saptoto.

MPU memang bukan tayangan penguras airmata. Bukan pula untuk mengaduk emosi penonton. Lebih dari itu MPU lebih sebagai penyadaran, bahwa usaha dan kerja keras tetap harus dibutuhkan untuk bisa mengubah nasib menjadi lebih baik.    
 


(Bambang Isti/CN41/SM Network)