• KANAL BERITA

Jika Persuasif Mentok, Langkah Normatif Dilakukan

Relokasi Warga Penolak NYIA

KUNJUNGAN LAPANGAN: Rombongan Komisi VI DPR RI mendapatkan pemaparan dari PT Angkasa Pura I saat kunjungan lapangan di lokasi pembangunan bandara NYIA di Kecamatan Temon, Kulonprogo. (suaramerdeka.com / Panuju Triangga)
KUNJUNGAN LAPANGAN: Rombongan Komisi VI DPR RI mendapatkan pemaparan dari PT Angkasa Pura I saat kunjungan lapangan di lokasi pembangunan bandara NYIA di Kecamatan Temon, Kulonprogo. (suaramerdeka.com / Panuju Triangga)

KULONPROGO, suaramerdeka.com – Langkah normatif akan diambil dalam merelokasi warga penolak bandara yang masih bertahan di dalam wilayah Izin Penetapan Lokasi (IPL) pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) bila upaya persuasif menemui jalan buntu.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY, Budi Wibowo mengatakan, pembangunan NYIA akan tetap berjalan. Pekan lalu telah dilakukan rapat koordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk mengundang Komnas HAM.

Menurutnya, berdasarkan masukan dari Komnas HAM, jika 37 keluarga yang masih bertahan di dalam IPL tetap bersikeras tidak mau pindah keluar dari wilayah IPL hal itu tidak menghentikan pembangunan NYIA. Upaya yang harus dilakukan yakni langkah persuasif terlebih dulu, tetapi langkah normatif tetap harus dipegang.

“Artinya kalau langkah persuasif sudah tidak bisa lagi mereka diajak persuasif diajak dialog, ya langkah normatif yang dilakukan. Siapa yang melakukan, Polda. Di sana sudah punya SOP (Standar Operasional Prosedur)-nya bagaimana kalau mengatasi seperti itu,” kata Budi Wibowo di Kulonprogo, Selasa (8/5).

Menidaklanjuti hal itu, lanjutnya, Bupati Kulonprogo beserta tim akan melakukan langkah-langkah persuasif mendekati warga penolak. Kemudian jika nantinya ada yang tetap bersikeras maka akan dipindahkan oleh Polda. Budi menegaskan, warga penolak tidak diusir dari wilayah IPL tetapi dipindahkan karena sudah disiapkan tempat untuk pindah dengan disewakan rumah serta tanah magersari.

“Saya pikir Jogja ini luar biasa dibanding daerah lain, ada rumah yang disewakan untuk mereka yang belum mendapatkan rumah, kemudian ada tanah magersari yang dibangun 50 rumah. Kemudian akan dilengkapi (ditambah menjadi) 100 rumah, ini kan sesuatu yang luar biasa,” tuturnya.

Budi berharap masyarakat bisa memahami bahwa bandara itu satu-satunya triger (pemicu) untuk menuju DIY yang lebih sejahtera. Dia meyakini keberadaan bandara akan membawa multiplier efect luar biasa bagi DIY. Hanya saja, masyarakat DIY juga harus siap menghadapi, apalagi di era kompetisi global. “Artinya produk-produk lokal harus mampu bersaing di pasar internasional,” katanya.

Mengenai waktu pelaksanaan pemindahan atau relokasi warga yang masih menolak, Budi mengatakan, juga telah dibahas dalam rapat koordinasi. Waktu yang dipertimbangkan adalah sebelum bulan puasa atau setelah bulan puasa.

“Yang jelas pada saat puasa tidak akan dilakukan. Itu keputusannya nanti antara Angkasa Pura dengan pihak Polda dan Polres, apakah menjelang pusa atau setelah puasa. Tatapi kalau setelah puasa memang program (tahapan pembangunan NYIA) akan mundur,” imbuhnya.


(Panuju Triangga/CN26/SM Network)