• KANAL BERITA

CCFI Kembangkan Program PHBS

Sudah Melatih 1.413 Siswa

Siswi SMP 1 Bawen cuci tangan menggunakan Fasilitas PHBS disaksikan Bupati Mundjirin, Koordinator Program CCFI Agus Priyono, dan Plant Operation Manager Coca-Cola Amatil Indonesia, AP Nurmandito. (suaramerdeka.com/Irawan Aryanto)
Siswi SMP 1 Bawen cuci tangan menggunakan Fasilitas PHBS disaksikan Bupati Mundjirin, Koordinator Program CCFI Agus Priyono, dan Plant Operation Manager Coca-Cola Amatil Indonesia, AP Nurmandito. (suaramerdeka.com/Irawan Aryanto)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Sampah bisa menjadi sarang atau sumber munculnya berbagai penyakit. Keterangan tersebut disampaikan Bupati Semarang, Mundjirin ketika melantik Duta Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di SMP 1 Bawen, Selasa (8/5) siang. Dalam sambutannya Bupati mengakui, untuk menyadarkan masyarakat membuang sampah pada tempatnya, tidak buang air besar sembarangan, hingga sadar akan pentingnya cuci tangan pakai sabun saat ini masih susah.

“Sudah disediakan fasilitas gratis, ning ora dienggo (tetapi tidak dipakai). Sebab dari kecil tidak didik. PHBS menjadi solusi, dan kita semua harus berperan demi kesehatan,” katanya.

Guna menekan penularan kuman penyakit, pihaknya menyarankan masyarakat supaya rutin cuci tangan menggunakan air yang mengalir serta memakai sabun cair sekali pakai. Data yang dihimpun menyebutkan, dengan membasuh tangan pakai air yang mengalir sudah mengurangi 50 persen kuman yang menempel.

“Apalagi jika memakai sabun yang sekali pakai, tentu jauh lebih sempurna dibandingkan dengan sabun yang digunakan berkali-kali oleh banyak orang,” jelasnya.

Apa yang sudah diwujudkan Coca-cola Foundation Indonesia (CCFI) bersama Yayasan Farmer Initiatives for Ecological Livelihoods and Democracy-Indonesia (FIELD-Indonesia), lanjut Bupati Mundjirin, perlu dikembangkan ke sekolah lain di Kabupaten Semarang melibatkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Bahkan layak untuk diterapkan di kabupaten/kota lain di Indonesia.

“Kalau perlu dilombakan, mana sekolah-sekolah yang sudah punya fasilitas seperti itu. Mengingat tidak sekadar ada air bersih yang mengalir saja, namun juga perlu fasilitas yang mendukung,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Eksekutif Yayasan FIELD-Indonesia, Heru Setyoko menjabarkan, bersama CCFI, pihaknya telah menjalankan Program PHBS di sejumlah sekolah di Kabupaten Semarang. Meliputi SMP 1 Bawen, SD Harjosari 2, SD Samban 2, dan SD Jatijajar. Kemudian melatih 21 orang guru untuk menjadi pelatih PHBS, serta menjadikan 105 orang siswa sebagai Duta PHBS yang ditindaklanjuti dengan memberikan pelatihan kepada 1.413 orang siswa di empat sekolah tersebut.

Ada pun bantuan insfrastruktur yang diberikan, di antaranya 21 fasilitas cuci tangan, empat tandon air, tiga menara air, satu sumur baru, di samping perbaikan satu tandon air dan empat kamar mandi. “Program ini dimulai Juli 2017, saat ini masih dalam proses pembuatan penambahan fasilitas cuci tangan di samping akses air bersih di SD Harjosari 1, SD Lemahireng 1, dan SD Lemahireng 2,” jabarnya.

Koordinator Program CCFI, Agus Priyono menambahkan, sejak 2006 silam pihaknya sudah menginvestasikan sebanyak 2 juta US Dollar untuk bantuan akses air bersih di tanah air. Bantuan tadi, diwujudkan dalam bentuk 12 program water replenish dimulai dari Sumatera Utara hingga Nusa Tenggara Timur.

“Setelah di Bawen, Kabupaten Semarang Program Peningkatan Fasilitas dan PHBS hendak kami kembangkan di kabupaten/kota lain di seluruh Indonesia,” tutur Agus Priyono.


(Ranin Agung/CN40/SM Network)