• KANAL BERITA

Penuhi Kebutuhan Inhan, Pabrik Propelan Tak Bisa Ditunda Lagi

Foto: suaramerdeka.com/Setiady Dwi
Foto: suaramerdeka.com/Setiady Dwi

BANDUNG, suaramerdeka.com - Keberadaan pabrik propelan, bahan pendorong atau bubuk mesiu sudah menjadi tuntutan dalam rangka pemenuhan kebutuhan alat utama sistem persenjataan dalam negeri.

Selama ini, kebutuhan propelan masih diimpor. Mengacu kasus masa lalu, embargo bisa saja diberlakukan terhadap pengadaan propelan sehingga menganggu produksi alutsista seperti munisi dan roket.

Karena itu, pendirian pabrik propelan merupakan prioritas seiring gairah industri pertahanan dalam negeri yang semakin tinggi. PT Pindad misalnya. 

Tahun depan, BUMN Strategis itu menargetkan produksi hingga 4x90 juta butir munisi kaliber kecil. Ratusan juta peluru yang sebagian besar untuk kebutuhan TNI itu butuh propelan dalam jumlah besar.

"Kami butuh 500 ton propelan," kata Direktur Teknologi dan Pengembangan Pindad, Ade Bagdja di sela-sela Seminar "Application of Smokeless Powder Propellant in Ammunition and Rocket" di Bandung, Selasa (8/5).

Dengan propelan sebanyak itu, Pindad ingin memenuhi tren kebutuhan TNI yang semakin meningkat. Karena perlu persiapan karena target itu merupakan lompatan dengan menaikan kapasitas produksi dua kali lipat pada saat ini.

Dirut PT Dahana, Budi Antono menyatakan bahwa untuk keperluan tersebut pihaknya telah menyiapkan lahan seluas 600 hektare di Subang. "Kami menargetkan dalam tiga tahun bisa berproduksi," katanya.

Saat ini, pihaknya tengah melakukan feasibility study. Demikian pula dengan kajian detail kebutuhan sehingga kualitas propelan yang diproduksi bisa memenuhi kebutuhan pasar. Untuk tahap pertama, propelan itu bisa memenuhi kebutuhan munisi kaliber kecil.

Kabalitbang Kemenhan, Anne Kusmayati menambahkan idealnya propelan yang diproduksi bisa secara paralel memenuhi dua kebutuhan industri pertahanan. Tak hanya kaliber kecil tapi juga kaliber besar dan pengembangan roket.

"Pabrik propelan ini merupakan bagian dari roadmap industri pertahanan yang diharapkan bisa berproduksi pada 2020. Kapasitas produksi yang dibangun 400 ton, dan berikutnya bisa ditingkatkan ke MKB dan roket," katanya sambil menyebutkan investasi yang dibutuhkan tak sedikit.


(Setiady Dwi/CN41/SM Network)