• KANAL BERITA

Lompati Dua Lintasan

Fly Over Klaten Tunggu Keputusan PUPR

PALANG KERETA: Petugas Dinas Perhubungan Pemkab Klaten, Sabtu (5/5) mengatur arus lalu-lintas di Jl Lingkar Selatan di dekat lintasan KA. (Foto suaramerdeka.com/Achmad Hussain)
PALANG KERETA: Petugas Dinas Perhubungan Pemkab Klaten, Sabtu (5/5) mengatur arus lalu-lintas di Jl Lingkar Selatan di dekat lintasan KA. (Foto suaramerdeka.com/Achmad Hussain)

KLATEN, suaramerdeka.com - Rencana pembangunan jalan layang ( fly over ) di jalan Lingkar Selatan Kabupaten Klaten masih menunggu hasil konsultasi ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruan(PUPR). Jalan layang itu diusulkan menjadi solusi kemacetan di jalur tersebut.

Menurut Sekretaris Dinas Perhubungan Pemkab Klaten, Sudiyarsono beberapa waktu lalu Dinas sudah  mempertanyakan rencana itu ke Kementerian Perhubungan. '' Namun kepastian pembangunannya baru dikonsultasikan ke Kementerian PUPR sebagai pelaksana,'' jelasnya, Selasa (8/5). 

Dikatakannya, secara prinsip Kementerian Perhubungan sudah menerima usulan dari Pemkab Klaten sejak lima tahun yang lalu. Namun penentu nasib rencana kegiatan itu ada di Kementerian PUPR.

Meskipun dokumen perencanaan pembangunannya sudah dibuat tahun ini. Jalan layang itu menjadi solusi paling mungkin untuk mengatasi kepadatan lalu-lintas di Kabupaten Klaten. Sebeb jalur Kabupaten Klaten merupakan jalur lintas utama Jawa Selatan. Jalan lingkar selama ini diutamankan untuk kendaraan berat dari arah Yogyakarta maupun Solo. 

Mengingat jika kendaraan berat dan bus masuk kota ruas yang ada tidak akan mampu menampung. Sayangnya selama ini jalan lingkar bertambah macet dan dikeluhkan. 
Penyebabnya di jalur itu ada dua palang perlintasan sebidang kereta api (KA). Yaitu di Dusun Krapyak, Desa Merbung, Kecamatan Klaten Selatan dan Dusun Sendangan, Desa Karanganom, Kecamatan Klaten Utara.

Jalur Ganda

Kemacetan, lanjut Sudiyarsono, semakin parah sebab kepadatan kereta yang melintas jalur selatan juga semakin padat dengan rel dobel track. Dari hasil survei Pemkab lima tahun silam, kerugian per tahun dari kemacetan di jalur itu dengan hitungan bahan bakar minyak (BBM) premium dan solar saja saat itu mencapai Rp 12 miliar. 

Jika kerugian itu dihitung tahun ini angkanya bisa lebih besar sebab BBM bukan lagi premium, harga sudah berbeda dan kemacetan semakin panjang. Belum lagi kerugian dari sisi waktu yang terbuang. Melihat urgensi itu, dia optimistis usulan pembangunan jalan layang itu akan disetujui selama belum ada jalan tol. 

Kepala Dinas Perhubungan Pemkab Klaten, Slamet Widodo mengatakan kepastian pembangunan itu hanya tinggal menunggu keputusan Kementerian PUPR. 


(Achmad Hussain/CN19/SM Network)