• KANAL BERITA

Puluhan Santri Gontor Belajar Rajut Khas Rembang

Santri Pondok Putri Modern Gontor Ngawi, antusias menyimak praktik merajut yang diajarkan oleh sejumlah perajut dari Okta Craf Rembang, di TK Al-Furqon.(suaramerdeka.com/Ilyas al Musthofa)
Santri Pondok Putri Modern Gontor Ngawi, antusias menyimak praktik merajut yang diajarkan oleh sejumlah perajut dari Okta Craf Rembang, di TK Al-Furqon.(suaramerdeka.com/Ilyas al Musthofa)

REMBANG, suaramerdeka.com – Sebanyak 84 santri putri Pondok Putri Modern Gontor Ngawi Jatim, belajar kerajinan merajut khas Rembang, Senin (7/5). Mereka praktik langsung merajut di bawah bimbingan sejumlah ahli dari Okta Craft Rembang.

Pembina Pondok Putri Modern Gontor, Zein Arif mengungkapkan, program belajar merajut ini merupakan bagian dari pembekalan kepada santri yang mau lulus. Pihak pondok menyebar lebih dari 1.400 santri kelas VI (setara kelas XII SMA) ke sejumlah kota untuk pembekalan skill tambahan, salah satunya di Rembang.

Ia menjelaskan, kerajinan rajut Rembang dipilih merupakan rekomendasi dari jaringan keluarga pondok modern Gontor. Alasan utama memilih rajut Rembang karena nama Okta Craft Rembang selama ini menang sudah banyak dikenal karena kekhasan produknya.

“Kami mencarikan obyek pelatihan di Rembang. Setalah melalui berbagai pertimbangan kerajinan yang dipilih adalah rajut Rembang. Kami senang ternyata pengelola Okta Craft menyambut baik dan berkenan menularkan ilmunya kepada para santri,” terang Zein.

Menurut Zein, pemberian materi tentang kerajinan rajut sesuai dengan jiwa santri yang sudah sejak awal diajarkan kreatifitas. Apalagi, pelatihan lebih banyak melakukan praktik, sehingga berjalan efektif.

Pemililik Okta Craft, Oktavirasa mengungkapkan, pelatihan yang diberikannya kepada santri merupakan aksi sosial alias gratis. Selain kepada santri Gontor, ia sudah kerap memberikan pelatihan merajut kepada santri pesantren lainnya serta penghuni berbagai panti asuhan. “Tadi yang kami ajarkan kepada santri Gontor adalah rumus merajut dompet yang juga bisa digunakan untuk tas. Selain itu, kami juga ajarkan membuat bros atau bunga penghias untuk jilbab, yang sesuai dengan kebutuhan para santri. Benang dan seluruh bahan saya yang menyediakan secara gratis,” ujarnya.

Menurut Oktavirasa, aksi sosial membagikan ilmu merajut merupakan bagian dari memromosikan rajut Rembang ke nusantara. Pasalnya, belakangan kerajinan rajut produksinya sudah mulai dikenal di pasar luar kota, seperti Batam, Jakarta, Surabaya, Riau serta Semarang. “Saya punya obsesi Rembang menjadi salah satu centra kerajinan rajut. Saat ini sedang dalam proses menuju ke sana. Biasanya, kerajinan rajut dikenal dari Yogyakarta, saya ingin mengenalkan rajut Rembang juga. Apalagi, rajut Rembang karyanya dikenal imajinatif,” tandasnya.


(Ilyas al-Musthofa/CN40/SM Network)