• KANAL BERITA

Harga Tanah Dieng Dinilai Terlalu Tinggi

BAWANG-DIENG: Iring-iringan mobil dari arah Bintoromulyo menuju Kota Kecamatan Bawang, Batang, baru-baru ini. (suaramerdeka.com / Ali Arifin)
BAWANG-DIENG: Iring-iringan mobil dari arah Bintoromulyo menuju Kota Kecamatan Bawang, Batang, baru-baru ini. (suaramerdeka.com / Ali Arifin)

BATANG, suaramerdeka.com - Harga tanah di kawasan Dataran Tinggi Dieng, termasuk di Dukuh/Desa Deles serta Dukuh Bintoromulyo dan Dukuh Sigemplong, Desa Pranten, Bawang, Batang, dinilai beberapa calon investor terlalu tinggi. Sebab, sebelum ada jalan tembus Bawang-Dieng, harga tanah di kawasan itu hanya berkisar Rp 20.000-Rp 40.000/m2.

"Namun setelah ada jalan tembus Bawang-Dieng, harga tanah di kawasan itu langsung melonjak drastis, berkisar Rp 300.000-Rp 500.000/m2. Bahkan, ada pemilik tanah yang minta Rp 1 juta/m2," jelas Tanto, warga Batur, Banjarnegara yang beberapa bulan lalu membeli tanah di Deles, Bawang, Batang.

Sementara itu Yulianti, seorang pengusaha Jakarta menyatakan kaget ketika mengetahui harga tanah pertanian atau perkebunan di kawasan Dataran Tinggi Dieng mencapai Rp 1 juta/m2.

"Kalau harga tanah Rp 1 juta/m2 itu tepatnya bukan untuk usaha pertanian atau perkebunan, namun untuk membuat vila atau penginapan. Kalau membuat vila atau penginapan semacam homestay, saya harus berhitung secara cermat. Karena ini terkait angka kunjungan wisata ke kawasan Dataran Tinggi Dieng dari tahun ke tahun," jelasnya.

Sebenarya Yulianti sudah mengajak sahabatnya, pengusaha perkebunan tanaman hias di Selandia Baru (New Zealand) untuk mengalihkan usahanya di Dieng. Mengingat suhu udara Dataran Tinggi Dieng sangat tepat untuk usaha perkebunan tanaman hias, seperti anggrek dan bunga kalalili. "Namun setelah saya beritahu harga tanah di Dieng bisa mencapai Rp 1 juta/m2, dia sangat kaget sekaligus bangga," katanya.

Menurut Yulianti, temannya itu kaget karena angka Rp 1 juta/m2 untuk tanah pertanian itu adalah harga yang fantastis. Namun sekaligus bangga, karena harga tanah pertanian di Dieng jauh melebihi di New Zealand hanya sekitar Rp 200.000/m2.

"Teman saya itu baru menjual aset berupa tanah perkebunan di New Zealand karena memang berniat mengalihkan investasinya ke Indonesia. Salah satu yang akan dituju adalah Dataran Tinggi Dieng. Dia menjual asetnya tanahnya jika dikurs dalam mata uang rupiah sekitar Rp 200.000/m2," jelasnya.

Dengan harga tanah yang dinilai cukup tinggi itu, akhirnya dia maupun temannya yang sama-sama tinggal di Jakarta untuk sementara mengurungkan niatnya berinvestasi di Deles atau kawasan Dataran Tinggi Dieng lainnya. "Tunggu perkembangan, siapa tahu ada petani yang butuh uang dan menawarkan dengan harga wajar. Sekaligus siapa tahu tahun 2019 jalan tembus Bawang-Dieng dilanjutkan lagi. Untuk sementara kami wait and see-lah," tandasnya.


(Ali Arifin/CN26/SM Network)