• KANAL BERITA

Perang Proxy di Timur Tengah Telah Menular di Indonesia

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Indonesia bisa menjadi ladang bagi perang proxy, karena sumberdaya alamnya melimpah, golongan masyarakatnya sangat majemuk, kiblat politiknya juga amat beragam. Karenanya Gerakan Nasionalis Kebangsaan Rakyat Indonesia (GNKRI) membudayakan diskusi publik yang elegan dan subtantif di tengah polarisasi politik akibat kontentasi politik elektoral dan berbagai hal permasalahan ketidakadilan sosial yang menjadi pintu masuk  proxy war itu.

Hal tersebut disampaikan Marbawi, Ketua Umum GNKRI saat membuka diskusi publik dengan tema “Proxy War di Timur Tengah, Apa Makanya Bagi NKRI, belum lama ini, di Jambore Kita Cafe, Sawah Lama Ciputat, Tangerang Selatan. Diskusi ini dipandu oleh Fadly Azhar Arsyad, Ketua Bidang Kajian Strategis (Kastrat) GNKRI. GNKRI, kata Marbawi, akan terus menggelar diskusi yang elegan dan subtansif dalam kerangka strategis NKRI.

Sebab, lanjut Marbawi, dalam situasi keruh antagonisme golongan yang akut seperti sekarang, diprediksi akan terus berlangsung sebagai akibat alamiah eskalasi politik dan ekonomi global yang dimainkan super power yang dianggap 'negara pusat'.

Posisi negara berkembang yang sering sekali dianggap 'negara pinggiran' oleh kekuatan global, sering dijadikan kaki tangan untuk dukung-mendukung kepentingan 'negara-negara pusat itu. Itulah kenapa, lanjut Marbawi, mesti ada kelompok strategis bangsa Indonesia yang menempatkan diri tidak terbawa arus antagomisme tajam itu.

"GNKRI menempatkan dirinya pada posisi tersebut, ber-gotong royong melakukan penguatan ideologi kebangsaan bersamaan dengan percepatan terwujudnya keadilan sosial. Tidak berat sebelah pada agenda pembangunan karakter kebangsaan, tetapi simultan dengan agenda pembangunan keadilan sosial," papar Wakil Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka itu.

 


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)