• KANAL BERITA

Pemerintah Harusnya Fokus Permudah Akses Pinjaman untuk UMKM

Foto: suaramerdeka.com / Cun Cahya
Foto: suaramerdeka.com / Cun Cahya

JAKARTA, suaramerdeka.com - Berdasarkan informasi dari Kementerian Koperasi dan UMKM, hingga saat ini tercatat penurunan omzet rata-rata 15 persen untuk UMKM yang berbasis bahan produksi impor. Dengan semakin mahalnya harga bahan pokok yang tidak dibarengi dengan peningkatan penghasilan, lanjut Novani, otomatis akan menurunkan daya beli masyarakat.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Novani Karina Saputri mengatakan, UMKM terkadang tidak akan menaikan harga guna menjaga nilai penjualan, tetapi mau tidak mau akan berdampak pada penurunan profit margin mereka.

"Pemerintah harus mampu mengidentifikasi kendala apa saja yang dihadapi oleh pelaku UMKM. Beberapa hal yang sering menjadi kendala UMKM adalah penguasaan teknologi dan akses pasar serta permodalan. Persoalan permodalan masih menjadi persoalan utama yang sering dihadapi oleh rata-rata UMKM di Indonesia," kata dia.

Dalam kondisi seperti ini, pemerintah seharusnya fokus untuk mempermudah akses pinjaman secara merata dan terus menyediakan fasilitas pinjaman usaha dengan bunga yang rendah untuk mempertahankan kinerja dan produktivitas UMKM di tengah guncangan pelemahan nilai mata uang saat ini, seperti melalui KUR.

Namun Novani menambahkan, sebenarnya ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh UMKM dalam kondisi ini. Melemahnya Rupiah terhadap Dollar akan menyebabkan harga barang impor semakin mahal. UMKM bisa memperkuat daya saingnya dengan produk impor dengan meningkatkan produktivitas dan ekspor produknya.

"Untuk mendukung tumbuhnya UMKM, terutama dalam kondisi ekonomi seperti sekarang ini, pemerintah perlu melakukan beberapa hal, di antaranya adalah mengontrol nilai inflasi. Hal lain yang perlu dilakukan adalah dengan menjaga suku bunga kredit, khususnya untuk KUR," tuturnya.


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)