• KANAL BERITA

Jepara Tuan Rumah Mujahadah Shalawat Wahidiyah Jateng

KH Abdul Latif Madjid, pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan pengasuh Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri, Jatim. (suaramerdeka.com/dok)
KH Abdul Latif Madjid, pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan pengasuh Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri, Jatim. (suaramerdeka.com/dok)

JEPARA, suaramerdeka.com - Kabupaten Jepara akan menjadi tuan rumah mujahadah tengah tahun (nisfussanah) shalawat wahidiyah tingkat Jawa Tengah. Puncak acara tersebut akan diselenggarakan di lapangan Desa Ngabul Kecamatan Tahunan, Jepara pada Kamis (10/5) mulai pukul 20.00 WIB, dengan didahului beragam acara sosial pagi dan siang harinya. Ribuan jamaah dari daerah-daerah di Jateng dan provinsi sekitar akan hadir.

Ketua panitia mujahadah nisfussanah wahidiyah Jateng Winoto Arif In’am, Minggu (6/5) mengatakan, soal tempat di di Jepara adalah karena giliran Jateng. “Ini acara tingkat provinsi dan tempatnya biasanya salah satu daerah di provinsi itu. Untuk Jateng ini Jepara jadi tuan rumah. Jamaah yang hadir biasanya juga banyak dari provinsi lain,” ujar Winoto Arif In’am. 

Pemrakarsa kegiatan tersebut adalah Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo al-Munadhdhoroh Kediri, Jatim. Ia juga mengatakan, pagi hari sebelum puncak acara, diselenggarakan acara sepeda santai yang melibatkan sekitar 1.000 pesepeda. Kegiatan tersebut akan dihadiri pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo KH Abdul Latif Madjid. Ia akan memimpin para pesepeda yang rencananya akan dilepas Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi. 

Shalawat Wahidiyah

Era kebangkitan ulama Indonesia, tidak pernah melewatkan pondok pesantren Kedunglo al-Munadhdhoroh. Pesantren ini diasuh KH Muhammad Ma’roef. Pada awal berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) sudah masyhur. “Mbah Hasyim Asy’ari (pendiri NU-Red) dan para ulama waktu itu memosisikan Mbah Ma’roef sebagai tukang donga,” tutur Kiai Abdul Latif Madjid, pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo, yang saat ini memegang tampuk kepemimpinan Perjuangan Wahidiyah. 

Kiai Hasyim Asy’ari yang merupakan teman akrab tunggal seperguruan Kiai Muhammad Ma’roef di tempat Syeikh Khalil Bangkalan dan turut merintis pendirian NU. Mbah Ma’roef duduk sebagai salah satu Mustasyar NU periode pertama. Sebagai penasehat NU, Mbah Ma’roef saat itu selalu didaulat untuk memimpin doa. Bahkan apabila para Ulama NU mengadakan Bahsul Masail dan menemui jalan buntu, mereka sowan Mbah Ma’roef untuk memohon petunjuk dan doa. Kiai Aabdul Latif menuturkan, mujahadah menjadi tiang utama di Pesantren Kedunglo ini, menyertai proses belajar mengajar yang konvensional. 

Kiai Abdul Latief Madjid menjelaskan, mujahadah shalawat wahidiyah menjadi basis perjuangan pesantren Kedunglo. Mbah Ma’roef sebagai pendiri pesantren, sejak awal berpesan agar para santri dan anak cucunya lebih banyak mujahadah dengan shalawat. Mbah Ma’roef wafat pada usia 103 tahun. Tujuh tahun kemudian,  putranya, Kiai Abdoel Madjid Ma’roef menyusun shalawat yang berkembang sampai sekarang, yakni shalawat wahidiyah.

Kiai Abdoel Madjid Ma’roef, pengarang sholawat wahidiyah ini wafat pada 1956. Sejak estafet kepemimpinan pesantren Kedunglo di bawha Kiai Abdul Latif Madjid, perjuangan semakin diperkuat dengan kelembagaan. Dibentuk Yayasan Perjuangan Wahidiyah dengan akta dari Kementerian Hukum dan HAM. Seruan mengamalkan shalawat wahidiyah diwadahi dalam Yayasan Perjuangan yang formal. 

Kini, kata Kiai Abdul Latif madjid, pengamal shalawat wahidiyah telah memiliki perwakilan di 26 provinsi di Indonesia, bahkan perwakilan di tingkat kabupaten/kota, Kecamatan dan sampai di tingkat desa. Untuk Jawa, perwakilan tingkat kecamatan di setiap kabupaten/kota mencapai 50 persen lebih.

Shalawat wahidiyah juga diamalkan banyak warga yang tinggal di Malaysia, Brunei Darussalam, Taiwan, Hongkong, Makau, dan Makkah. Bahkan ada warga Negara Australia yang kebetulan istrinya orang Indonesia, turut mengamalkan shalawat wahidiyah. 

Kebutuhan pendidikan dan ekonomi pengamal wahidiyah juga coba dipenuhi Yayasan Perjuangan Tersedia pendidikan mulai dari dasar sampai perguruan tinggi. Ada 90 TK, 20 SMP, delapan SMA, dan 10 pesantren wahidiyah yang tersebar di berbagai kota di Jawa, bahkan di luar Jawa seperti Samarinda, Pontianak dan Sumatera Selatan. Wahidiyah juga memiliki Universitas Wahidiyah (Uniwa) di lingkungan Pesantren Kedunglo yang memiliki enamfakultas dengan 16 program studi.

Kemandirian ekonomi juga ditatadengan membangun koperasi wahidiyah. Pada 2017 Yayasan Perjuangan Wahidiyah memiliki 898 koperasi primer yang tersebar di tingkat Kecamatan dan ditargetkan menjadi 1.000 koperasi pada 2018. Sebagian besar koperasi tersebut di bidang simpan pinjam dan 294 di antaranya di bidang usaha sembako dan retail.

Kemandirian dana yang diputar di koperasi wahidiyah terbukti dengan kucuran dana dari pusat ke seluruh daerah dalam jumlah relatif besar, yakni Rp 17 miliar. “Kucuran pinjaman ini sepenuhnya dari dana mandiri milik Yayasan Perjuangan Wahidiyah, tidak ada bantuan dari luar,” tutur Kiai Abdul Latif Madjid. 


(Muhammadun Sanomae/CN40/SM Network)