• KANAL BERITA

YKI Dorong Pelatihan Perawatan Paliatif

IKUTI PELATIHAN : Sejumlah peserta mengikuti pelatihan perawatan paliatif pasien kanker yang diselenggarakan YKI Pusat dan YKI Cabang Semarang bekerja sama dengan PT Garuda Indonesia. (Foto: suaramerdeka.com/Eko Fataip)
IKUTI PELATIHAN : Sejumlah peserta mengikuti pelatihan perawatan paliatif pasien kanker yang diselenggarakan YKI Pusat dan YKI Cabang Semarang bekerja sama dengan PT Garuda Indonesia. (Foto: suaramerdeka.com/Eko Fataip)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Indonesia merupakan satu di antara negara dengan angka kejadian kanker tinggi. Setiap tahun diperkirakan terdapat 100 kasus baru per 100 ribu penduduk. Artinya, dari sekitar 240 juta penduduk Indonesia, terdapat 240 ribu kasus baru tiap tahunnya.

Kabid Pelayanan Sosial YKI Pusat, Dr dr Sonar Panigoro SpB(K) Onk menyatakan, ada sejumlah hal yang menyebabkan prevalensi kanker di Indonesia cenderung meningkat. Sebesar 30-40 persen karena gaya hidup dan 5 persen faktor keturunan. Selebihnya belum diketahui secara pasti.
 
"Meningkatknya angka kejadian kanker salah satunya karena belum diketahui pasti penyebab penyakit ini," kata Sonar di sela-sela pelatihan perawatan paliatif pasien kanker yang diselenggarakan YKI Pusat dan YKI Cabang Semarang bekerja sama dengan PT Garuda Indonesia di RSUP Dr Kariadi Semarang, Minggu (6/5).
 
Penanggung Jawab Program Paliatif, Dr Siti Annisa Nuhonni SpKFR(K) mengemukakan, upaya paliatif merupakan suatu cara untuk meringankan atau mengurangi penderitaan pasien. Harapannya, penderita kanker akan merasa hidup lebih nyaman.

Sementara itu, Ketua YKI Cabang Semarang, dr Eko Adhi Pangarsa SpPD KHOM mengatakan, pelatihan itu diikuti 49 peserta, berasal dari sejumlah rumah sakit negeri dan swasta di Indonesia.

Perwakilan PT Garuda Indonesia, Ambar Dewi Pratiwi menambahkan, sebagai BUMN, pihaknya mempunyai kewajiban untuk mendorong perbaikan di berbagai sektor, salah satunya di bidang kesehatan. "Ada tujuh sektor yang kami sentuh, dari lingkup kesehatan, lingkungan hidup hingga kemiskinan," imbuhnya.


(Eko Fataip/CN41/SM Network)