• KANAL BERITA

Dibawa Wali Songo, Anti Gerakan Radikal

Silat Tauhid Indonesia

BERJALAN DI BARA API: Seorang pengikut Silat Tauhid Indonesia dengan kemampuan tenaga dalamnya berjalan di atas bara api saat kegiatan Latihan Gabungan di Stadion Kridosono, Kota Jogja, Minggu (6/5). (Foto suaramerdeka.com/Gading Persada)
BERJALAN DI BARA API: Seorang pengikut Silat Tauhid Indonesia dengan kemampuan tenaga dalamnya berjalan di atas bara api saat kegiatan Latihan Gabungan di Stadion Kridosono, Kota Jogja, Minggu (6/5). (Foto suaramerdeka.com/Gading Persada)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Negara Indonesia Indonesia memang sangat kaya. Beragam suku, agama, kesenian, kebiasaan masyarakat ada di negeri ini. Termasuk cabang olahraga silat misalnya yang banyak memiliki aliran. Sebagai olahraga asli Indonesia, ilmu dan gerakannya pun kental dengan budaya bangsa. Salah satunya Silat Tauhid Indonesia, yang konon diturunkan oleh para Wali Songo. Maka tak heran pula, gerakan-gerakannya juga merupakan perpaduan dengan nilai-nilai keislaman.

“Ilmunya dari ciptaan salah satu Wali Songo, yakni Sunan Bonang. Waktu itu Beliau tahu orang Jawa senang kedigdayaan. Makanya dia menciptakan gerakan-gerakan silat tapi disisipi nilai keislaman,” papar Andre Rifai Ibnu Gambang selaku Ketua Dewan Pendiri Silat Tauhid Indonesia di Stadion Kridosono, Kota Jogja, Minggu (6/5).

Masih berada di bawah naungan IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), Gambang menyebut bahwa Silat Tauhid Indonesia tidak memilihi jalur olahraga prestasi namun pada jalur tenaga dalam. Maka ilmu-ilmu yang diajarkannya lebih banyak gerakan-gerakan silat yang memfokuskan pada nilai keislaman dan tenaga dalam. Maka tak jarang bagi para pendekar-pendekar, sebutan dari mereka pengikut Silat Tauhid Indonesia, kemampuan kanuragan semacam kebal terhadap senjata tajam menjadi hal yang biasa ditemui.

“Ilmu silat kami lebih pada gerakan huruf-huruf Hijaiyah. Mulai alif sampai yak. Untuk kemampuan tenaga dalam ini bukannya untuk sombong-sombongan atau takabur sehingga tidak bisa dimainkan setiap saat. Dan mereka yang memiliki ilmu ini juga harus melewati beberapa tahapan dibawah bimbingan guru-gurunya,” ungkap pria yang juga salah satu guru besar Silat Tauhid Indonesia itu.

Berdiri pada 1989 dari sebuah majelis dzkiri dengan berlanjut latihan perdana di Pekalongan medio 1992, Gambang mengklaim saat ini ada sekitar 175 ribu anggota Silat Tauhid Indonesia yang tersebar di seluruh nusantara. Dari jumlah itu 174 diantaranya memiliki kemampuan untuk menyebarkan ilmu Silat Tauhid ini kepada khalayak umum.

“Termasuk dalam Latihan Gabungan (Latgab) ini sebagai momen berkumpulnya pengikut Silat Tauhid Indonesia sekaligus merayakan hari jadi organisasi ini,” ungkap dia.

Lebih lanjut Gambang menjelaskan bahwa sebagai olahraga asli bangsa maka setiap pengikut Silat Tauhid Indonesia wajib menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Makanya saat ini ketika ada ancaman disintegrasi bangsa sampai juga ada ancaman terhadap keutuhan Keraton Jogja sampai ada yang ingin membunuh Sri Sultan maka kami menjadi orang terdepan yang akan menggagalkannya. Kami anti gerakan radikal,” tegas Gambang. 


(Gading Persada /CN19/SM Network)