• KANAL BERITA

Relokasi Pedagang Pasar Kobong Bisa Picu Kemiskinan Baru

POLEMIK PASAR KOBONG: Anggota Komisi E DPRD Jateng Yudi Indras Wiendarto berkunjung di Pasar Kobong Kota Semarang untuk menyerap aspirasi pedagang soal relokasi, Sabtu (5/5) malam. (suaramerdeaka.com/Hanung Soekendro)
POLEMIK PASAR KOBONG: Anggota Komisi E DPRD Jateng Yudi Indras Wiendarto berkunjung di Pasar Kobong Kota Semarang untuk menyerap aspirasi pedagang soal relokasi, Sabtu (5/5) malam. (suaramerdeaka.com/Hanung Soekendro)

 

SEMARANG, suaramerdeka.com - Jika tak hati-hati, relokasi pedagang Pasar Rejomulyo lama (Pasar Kobong) ke lokasi baru di Pasar Rejomulyo baru Kota Semarang bisa memicu kemiskinan baru. Penurunan omzet penjualan yang signifikan menjadi alasan utamanya dan saat ini sudah mulai dirasakan pedagang.

Menurut Ketua Paguyuban Pedagang Ikan Basah dan Pindang (PIPB) Pasar Kobong, Pranowo, penurunan omzet saat ini disebabkan menurunnya transaksi pedagang dari luar kota. Seperti Solo, Magelang dan Yogyakarta. Alasannya, mereka ada yang tak datang ke pasar karena takut tak ada stok barang dan merugi di ongkos perjalanan.

“Karena ontran-ontran relokasi ini, mereka dengar kalau stok barang turun. Makanya ada yang tak datang. Sementara pasokan juga tak seperti biasanya,” kata Pranowo pada Anggota Komisi E DPRD Jateng Yudi Indras Wiendarto ketika berkunjung di Pasar Kobong, Sabtu (5/5) malam.

Jika relokasi itu benar dilakukan dan kondisi Pasar Rejomulyo baru masih seperti saat ini, katanya, omzet jelas akan menurun. Alasan utamanya adalah ketiadan lahan parkir untuk proses bongkar muat ikan. Sementara di Pasar Kobong, lahan parkir memadai. Padahal dalam satu malam, di Pasar Kobong, setidaknya ada 250 transaksi yang membutuhkan proses cepat.

Ia kemudian juga mencontohkan, lokasi pedagang ikan asin di Pasar Rejomulyo baru di tempatkan di lantai dua. Padahal, pengiriman ikan asin menggunakan kontainer karena jumahnya banyak. Jika ditempatkan di lantai dua maka jelas membutuhkan tambahan biaya produksi untuk tenaga dan waktu.

Ia juga menyesalkan, pembangunan Pasar Rejomulyo yang tak meminta masukan dari pedagang. “Di lokasi baru, pedagang ikan dan ikan asin dijadikan satu lokasi, ini salah. Karena keduanya membutuhkan air yang berbeda. Saluran air kamar mandi juga dijadikan satu dengan saluran pembuangan ikan yang ada lendir dan sisiknya. Bisa-bisa saluran air jadi tersumbat,” terangnya.

Harapanya, pemerintah mau duduk dengan pedagang lagi untuk mencari solusi yang terbaik. Lantaran pedagang sebenarnya tak mempersoalkan untuk relokasi, asalkan lokasi baru bisa menunjang proses jual beli dengan maksimal.

Anggota Komisi E DPRD Jateng, Yudi Indras Wiendarto meminta Pemkot berhati-hati dalam melakukan relokasi pedagang. Jika memang kondisi Pasar Rejomulyo baru belum sesuai maka mestinya jangan di paksakan. Menurutnya akan lebih baik jika pemerintah duduk bersama dengan pedagang dan mau menerima masukan. Toh, selama ini pedagang inilah yang turut menggerakan perekonomian di Kota Semarang.

Setelah menerima masukan pedagang, Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Jateng ini meminta dua hal pada Pemkot. Pertama, melakukan diskusi dengan pedagang dan merealisaskan masukan pedagang soal konsep pasar ikan yang tepat. Kedua, menunda melakukan relokasi selama lokasi baru belum maksumal fasilitasnya.

“Saya khawatir kalau dipaksakan relokasi, sementara alokasi baru belum sesuai maka akan menurunkan omzet. Ini bisa memicu pengangguran dan kemiskinan baru,” kata Yudi. 


(Hanung Soekendro/CN39/SM Network)