• KANAL BERITA

Sehari Semalam Terkubur, Jenazah Slamet Ditemukan

Foto: Petugas kepolisian bersama warga masyarakat memandu jenazah Slamet Nurohman (56), korban kedua longsor penambangan pasir di Desa Tambi Kecamatan Kejajar, Wonosobo, Sabtu (5/5) sekitar pukul 14.00. suaramerdeka.com/M Abdul Rohman
Foto: Petugas kepolisian bersama warga masyarakat memandu jenazah Slamet Nurohman (56), korban kedua longsor penambangan pasir di Desa Tambi Kecamatan Kejajar, Wonosobo, Sabtu (5/5) sekitar pukul 14.00. suaramerdeka.com/M Abdul Rohman

WONOSOBO, suaramerdeka.com - Sehari semalam terkubur dalam reruntuhan material longsor,  Slamet Nurohman (56), pemilik lokasi  galian C di Dusun Tegalrejo Desa Tambi Kecamatan Kejajar, Wonosobo akhirnya ditemukan. Jenazah korban ditemukan di kedalaman tiga meter pada tumpukan material tanah longsor, Sabtu (5/5) sekitar pukul 13.10. Petugas gabungan bersama masyarakat berjibaku melakukan penggalian material longsor menggunakan alat manual hingga jenazah bisa dievakuasi pukul 14.00.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonosobo Prayitno menyebutkan, proses evakuasi korban longsor hari kedua dibantu ratusan personel baik TNI, Polri, SAR, Banser, MDMC, BPBD, Relawan, perangkat desa, serta masyarakat sekitar, ditambah satu armada alat berat.

"Evakuasi korban dimulai pukul 07.00, setelah sebelumnya proses evakuasi dihentikan mengingat kondisi sudah petang dan berhasil menemukan korban Bawon Haryadi (57) rekan korban Slamet," beber dia.

Korban Bawon ditemukan petugas gabungan pukul 16.30. Jenazah Bawon ditemukan terkubur dalam kondisi berdiri. Sepertinya dia hendak naik, karena lokasinya berada di lubang galian setinggi tiga meter. Untuk pencarian hari kedua, personel yang dikerahkan dari unsur relawan 100 orang, dari SARNAS enam orang, anggota Linmas 10 orang, dari SAR Skydor ada 26 orang, ACT ada enam orang,  MDMC ada 30 orang, dari Banser atau Bagana ada 70 orang, Polri dua pleton, TNI satu pleton dan BPBD 10 orang. 

Sementara itu untuk sumberdaya alat, pihaknya mengerahkan satu alat berat, satu mobil evakuasi dan satu mobil ambulance.

"Kami sangat berterima kasih dengan semangat dan kerja sama tim melakukan evakuasi, sehingga dua korban telah ditemukan," tutur dia.

Pihaknya menilai tanah di lokasi galian C tersebut sudah kritis, sehingga rawan mengalami longsor. Diharapkan kegiatan penambangan bisa dihentikan karena sangat rawan terjadi longsor susulan.

Diberitakan sebelumnya, dua warga Desa Tambi tertimbun tanah longsor di lokasi penambangan pasir, Jumat (4/5) sekitar pukul 11.30. Dua korban longsor tersebut antara lain Slamet Nurohman (56) warga Dusun Tegalrejo RT 31 RW 10 pemilik lokasi penambangan, dan Bawon Haryadi (57) warga Dusun Tegalrejo RT 28  RW 10 yang membantu kegiatan penambangan. Kepala Desa Tambi, Tri Pitoyo menyebutkan, kejadian tersebut diketahui ketika istri korban Slamet Nurohman, yakni Sri Rahayu mendatangi lokasi penambangan. 

Saat itu istri korban bermaksud meminta suaminya berhenti bekerja, karena waktunya Sholat Jumat. Setelah sampai di lokasi penambangan, istri korban kaget melihat kondisi tempat penambangan pasir tersebut terdapat reruntuhan material tanah cukup banyak dan suaminya tidak berada di lokasi kejadian. Sri Rahayu berupaya mencari keberadaan suaminya, beserta satu rekan kerja lainnya di sejumlah lokasi galian C tak berizin tersebut. 

Beberapa menit mencari, namun istri korban tak kunjung menemukan mereka. Khawatir terjadi apa-apa dengan kondisi suami dan rekan kerjanya di lokasi penambangan yang mengalami reruntuhan, istri korban bergegas pulang dan menceritakan kejadian tersebut kepada tetangganya.

"Istri korban sangat panik dan menceritakan kejadian itu ke tetangganya. Kejadian itu kemudian dilaporkan kepada kami. Perangkat desa beserta warga masyarakat kemudian segera mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi dengan cara manual," beber dia.

Dikatakan, pemerintah desa sebelumnya telah melarang kegiatan penambangan pasir tersebut, namun mereka tak bergeming. Aktivitas penambangan pasir tetap dilakukan, hingga akhirnya musibah longsor terjadi. Dimungkinkan, kondiri lahan galian c sudah labil, sehingga saat dilakukan kegiatan penambangan pasir terus menerus, bencana tanah longsor tak terelakan.

"Perangkat desa sudah mengingatkan sebelumnya, agar penambangan tidak dilakukan lagi," tandasnya. 

Sementara itu, Kapolres Wonosobo AKBP Abdul Waras melalui Kepala Satuan Sabhara AKP Agus Priyono menyebutkan, untuk keamanan di lokasi kejadian, pihaknya telah memasang garis polisi di sekitar lokasi kejadian. Pihaknya meminta kegiatan penambangan pasir tidak dilakukan kembali, karena rawan terjadi longsor susulan. Hal ini karena kondisi tanah masih sangat labil.

"Kami berharap tidak terjadi lagi tanah longsor, apalagi sampai menimbulkan jatuhnya korban. Semoga kejadian ini bisa menjadi pembelajaran kepada para penambang lain," imbaunya.


(M Abdul Rohman/CN42/SM Network)