• KANAL BERITA

Enam Anggota Panwaslu di Den Haag Dilantik

Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

DEN HAAG, suaramerdeka.com - Ketua Badan Pengawas Pemilu Republik Indonesia, Abhan, melantik enam anggota Panitia Pengawas Pemilihan Umum Luar Negeri pada Rabu (2/5) lalu, di Ruang Nusantara Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, Belanda. Keenam orang tersebut akan bertugas mengawasi pelaksanaan Pemilihan Umum tahun 2019 di perwakilan Den Haag, Belanda dan Frankfurt, Jerman.

Keenam orang yang dilantik tersebut terpilih setelah serangkaian proses penjaringan calon. Mereka adalah Putri Handayani, Arie Purwanto dan Isnawati Hidayah untuk Panwaslu Den Haag, serta Sri Nur Indrati Debus, Agnes Nirmalasari Soetanto dan Roselinda Adriana untuk Panwaslu Frankfurt.

Selain pelantikan, juga dilaksanakan penandatanganan Pakta Integritas bagi anggota Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Den Haag dan Frankfurt. Dengan sumpah dan pakta integritas tersebut, seluruh Anggota Panwaslu Luar Negeri resmi bertugas mengawal dan mengawasi pelaksanaan Pemilu tahun 2019 di wilayah kerja KBRI Den Haag dan KJRI Frankfurt.

Acara pengambilan sumpah/janji dimulai pada pukul 09.00, dipimpin Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Abhan, dan disaksikan oleh Sekretaris Jenderal Bawaslu RI, Gunawan Suswantoro; Anggota Bawaslu RI, Ratna Dewi Pettalolo; Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja; Inspektur Jenderal Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Rachmat Budiman; para pejabat di lingkungan KBRI Den Haag dan masyarakat Indonesia di Belanda.

Tantangan

Dalam sambutannya, Ketua Bawaslu, Abhan, mengucapkan selamat kepada para anggota Panwaslu Luar Negeri terpilih. Kepada mereka, Abhan juga menyampaikan tantangan Pemilu mendatang yang tidak ringan. "Setidaknya ada beberapa tantangan yang perlu kita cermati bersama. Seperti, penyelenggaraan Pemilu anggota DPR, DPD dan DPRD diselenggarakan bersamaan dengan Pemilu presiden dan wakil presiden," katanya.

Abhan menegaskan, bahwa pelaksanaan yang berbarengan ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi semua pihak, mulai dari partai politik peserta pemilu sampai pasangan calon peserta pemilu presiden dan wakil presiden. "Bagi Panwaslu Luar Negeri, tantangan tersebut menjadi warning, karena mau tak mau harus melakukan persiapan intensif demi keberhasilan Pemilu. Panwaslu Luar Negeri harus betul-betul siap menyambut tantangan tersebut," katanya.

Tantangan kedua Pemilu mendatang adalah bertambahnya aktor politik yang terlibat, sebagai implikasi penyelenggaraan Pemilu secara bersamaan. Panwaslu Luar Negeri harus mampu mengelola sumber daya pengawasan Pemilu. "Apalagi, SDM di Panwaslu Luar Negeri terbatas," kata Abhan.

Tantangan berikutnya adalah masih rentan terjadinya politik uang dan politik SARA pada Pemilu mendatang. "Perilaku ini dapat merusak integritas Pemilu kita.
Ini tantangan bagi Panwaslu agar memperkuat posisi pemilih, sehingga mereka memiliki kemampuan menolak politik uang dan mengikis habis politik SARA," tandas Abhan.


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)