• KANAL BERITA

Tiga Bendung Sungai di Karanganyar Mengkhawatirkan

LINGKUNGAN : Relawan membersihkan sedimentasi di Bendung Jetu di wilayah Karanganyar Kota, kemarin. (suara merdeka.com/Irfan Salafudin)
LINGKUNGAN : Relawan membersihkan sedimentasi di Bendung Jetu di wilayah Karanganyar Kota, kemarin. (suara merdeka.com/Irfan Salafudin)

KARANGANYAR, suara merdeka.cok  -  Tiga bendung sungai di Karanganyar kondisinya mengkhawatirkan akibat endapan lumpur yang melampaui batas ambang. Kondisi sedimentasi pada tiga bendung sungai juga akan mengganggu aktivitas pertanian karena merupakan saluran irigasi untuk persawahan.

Endapannya yang terlalu banyak jika dibiarkan menyebabkan bendungan rusak, endapan akan mendesak bangunan tanggul yang memicu ambrol. Sendementasi juga menyebabkan fungsi tidak optimal karena pendangkalan dan memicu banjir.

Tiga bendung tersebut adalah Bendung Jetu, endapannya 998 meter persegi, Bendung Tawang endapan 995 meter persegi, serta Bendung Kalongan, endapan 924 meter persegi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar bersama Perum Jasa Tirta I Surakarta melakukan pembersihan sedimentasi. Kegiatan yang berlangsung mulai Kamis (3/5) tersebut, melibatkan puluhan sukarelawan dari berbagai organisasi. 

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Karanganyar Bambang Djatmiko mengatakan, pembersihan sedimentasi dilakukan secara bertahap, diawali dari endapan di Bendung Jetu.

‘’Tanah yang mengendap di muka pintu air sampai puluhan meter ke hulu, disemprot dengan air yang dipompa agar larut. Sebagian lainnya dicangkul,’’ katanya. 

Kepala Sub Divisi DJA III/2 Perum Jasa Tirta I Wilayah Sungai Bengawan Solo Achmad Syuhairus Syam menjelaskan, tiga bendung yang endapannya cukup mengkhawatirkan berada di penggal Sungai Samin.

‘’Sedimentasi yang muncul tahun ini, lebih mengkhawatirkan dibanding tahun lalu. Sebab, curah hujan saat musim penghujan kemarin tinggi. Ini harus segera dibersihkan, agar tidak semakin menumpuk,’’ jelasnya.

Rawan Ambrol

Sebab, penumpukan sedimentasi bisa menyebabkan kerusakan bangunan bendung akibat tanah endapan mendesak bangunan. Menurut Achmad, Bendung Jetu pernah ambrol pada tahun lalu karena pendangkalan.

‘’Menguras endapan dengan cara melarutkannya hingga sedimentasi larut ke Bengawan Solo, menjadi salah satu cara untuk menghindari kerusakan,’’ tuturnya.

Dia menambahkan, sedimentasi muncul karena kondisi tanah di bagian hulu kritis. Hujan yang turun membawa beragam material seperti sampah organik, patahan dahan dan pohon serta tanaman, hingga mengendap di dasar sungai.

‘’Untuk menghindari munculnya sedimentasi, dengan memulihkan kondisi tanah yang kritis di hulu. Penghijauan sudah mulai dilakukan di wilayah hulu, seperti Ngargoyoso, Jumantono dan Matesih," imbuhnya. 


(Irfan Salafudin/CN39/SM Network)