• KANAL BERITA

Pembuat Miras Tradisional Diamankan

Wakapolres Semarang menunjukkan barang bukti miras tradisional buatan Ramot Simangunsong (42) warga Lingkungan Tambakboyo, Ambarawa ketika gelar kasus di Polres Semarang. (Foto: suaramerdeka.com/Ranin Agung)
Wakapolres Semarang menunjukkan barang bukti miras tradisional buatan Ramot Simangunsong (42) warga Lingkungan Tambakboyo, Ambarawa ketika gelar kasus di Polres Semarang. (Foto: suaramerdeka.com/Ranin Agung)

UNGARAN, suaramerdeka.com - Seorang pembuat minuman keras (miras) tradisional warga Lingkungan Tambakboyo, Ambarawa diamankan anggota Polsek Sumowono, kemarin. Dari tangan Ramot Simangunsong (42), polisi berhasil menyita miras tradisional yang dikenal dengan sebutan tuak sebanyak 700 liter.

Wakapolres Semarang, Kompol Cahyo Widyatmoko menyebutkan, terungkapnya upaya pembuatan hingga jalur distribusi miras tradisional itu berawal dari beberapa laporan warga yang resah.

“Laporan warga ditindaklanjuti dengan patroli, hasilnya Polsek Sumowono berhasil mengamankan pembuat beserta barang bukti tuak berbahan dasar nira aren sebanyak lebih kurang 700 liter yang dimasukkan di 35 jirigen plastik,” kata Kompol Cahyo, saat gelar kasus di Polres Semarang, Kamis (3/5).

Ketika diamankan, ratusan liter miras tradisional tersebut sudah dalam posisi siap distribusikan menggunakan mobil pikap Mitsubishi T120SS H-1761-UI. Disamping mengamankan pelaku pembuat, barang bukti miras, dan mobil, polisi juga menyita kulit tanaman Raru yang sudah dikeringkan untuk campuran miras.

“Kulit kayu Raru tadi, menurut pengakuan Ramot dapat membuat seseorang mabuk. Dari hasil penggeledahan di rumah Ramot, kami mendapati banyak karung berisi kayu Raru untuk bahan campuran,” imbuhnya.

Saat dihadirkan dalam gelar kasus kemarin, Ramot yang tercatat lahir di Medan 21 September 1976 ini mengelak apabila dirinya disebut sebagai pembuat sekaligus pengedar miras. Alasannya, larutan nira aren yang dicampur dengan kulit kayu Raru itu tergolong minuman tradisional yang sudah diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyangnya di Sumatera.

“Tidak ada alkoholnya, sebatas untuk menghangatkan badan saja. Di Sumatera sudah jadi tradisi, sejak nenek moyang kita juga sudah ada,” tuturnya.

Wakapolres Semarang menambahkan, atas aktivitasnya Ramot dinilai melanggar Pasal 43 ayat (3) jo Pasal 26 Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 9 Tahun 2013 tentang Pengawasan dan Pengendalian Minuman Keras Beralkohol di Kabupaten Semarang. 


(Ranin Agung/CN41/SM Network)