• KANAL BERITA

BPS Jateng Adakan Sosialisasi dan Koordinasi Sutas 2018

Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah Margo Yuwono  bersama guru besar Ilmu Ekonomi IPB Prof Muhammad Firdaus dan Sosiolog pedesaan IPB Ivanovich Agusta. (Foto: suaramerdeka.com/Cun Cahya)
Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah Margo Yuwono bersama guru besar Ilmu Ekonomi IPB Prof Muhammad Firdaus dan Sosiolog pedesaan IPB Ivanovich Agusta. (Foto: suaramerdeka.com/Cun Cahya)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah melakukan sosialisasi dan koordinasi Survei Pertanian Antar Sensus (Sutas) di Semarang, Kamis (3/5). 

Sutas 2018 dilakukan pada pertengahan periode Sensus Pertanian 2013 dan Sensus Pertanian tahun 2023 yang nantinya dapat diketahui perkiraan populasi rumah tangga pertanian menurut sub sektor, perkiraan poluplasi komoditas, perkiraan produktifitas dan parameter populasi ternak.  

Kepala BPS Jawa Tengah Margo Yuwono mengatakan sosialisasi dan koordinasi Sutas 2018 ini bertujuan mendapatkan data pertanian secara rinci yang disesuaikan dengan kondisi sekarang agar upaya fenomena pertanian bisa ditangkap dari sekarang. 

"Sehingga perlu kita lakukan sosialisasi besar-besaran berkoordinasi dengan semua stakeholder supaya data yang dihasilkan berkualitas dan bisa digunakan untuk berbagai kebijakan pemerintah," katanya. 

Selama ini sektor pertanian dianggap tidak menarik dibandingkan sektor-sektor lainnya. Berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2003 ke 2013 selama 10 tahun turunnya 1 juta rumah tangga pertanian sehingga di Sutas ini ingin melihat apakah fenomena ini terus berlanjut apa tidak. 

Sementara itu Asisten Administrasi Sekda Provinsi Jawa Tengah Budi Wibowo mendukung adanya Sutas 2018 karena dengan data yang valid maka semua langkah kegiatan perencanaan akan mendapatkan hasil yang optimal. 

"Dengan data pertanian dan data potensi desa diharapkan mendapatkan satu basis data di tingkat desa sehingga kita tahu apa yang harus dikembangkan di tingkat desa," ucapnya. 

Prof Muhammad Firdaus Guru Besar IPB menambahkan data Sutas ini penting untuk menjawab persoalan pertanian seperti masih banyaknya impor yang dilakukan oleh pemerintah hingga jumlah produksi. Dengan metodologi yang tepat bisa mendapatkan data yang valid sehingga bisa menjawab permasalahan tersebut. 


(Cun Cahya/CN41/SM Network)