• KANAL BERITA

Bursa Capres-Cawapres Menghangat, Jangan Ada Dikotomi Tua-Muda

Pakar komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing. (Foto: infonawacita)
Pakar komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing. (Foto: infonawacita)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Sistem demokrasi langsung telah membuka peluang dan kesempatan pada semua orang yang dinilai mampu untuk ikut dalam kontestasi politik, baik dalam Pilkada, Pemilu, maupun Pilpres.  

Menjelang Pemilihan Presiden 2019 mendatang, bursa persaingan baik capres maupun cawapres pun makin terbuka luas. Sejumlah tokoh baik tua maupun muda terjaring dalam sejumlah survei yang dilakukan lembaga survei. Namun, perlu menghilangkan dikotomi tokoh tua dan tokoh muda.

Munculnya nama-nama yang disebut bakal menjadi capres atau cawapres, hendaknya tidak dilihat dari perbedaan usia tua dan muda.

''Kita harus melihat kemunculan para tokoh-tokoh itu dalam kerangka kompetensi leadership. Jadi apakah dia tokoh yang disebut muda atau tua atau pun senior, bukan masalah,” kata pakar komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing, Kamis (3/5).

Hal itu menanggapi semakin banyaknya tokoh yang muncul dalam bursa capres-cawapres.

Emrus malah mempertanyakan, kepada tokoh muda, apakah sudah mempunyai pengalaman manajerial, skill dan Leadership skill. ''Jika semua terpenuhi, tak masalah. Meski demikian, bukan berarti tokoh tua juga tak boleh muncul dalam bursa capres-cawapres.

“Yang kita butuhkan adalah tokoh yang memiliki keahlian, kepemimpinan, dan mereka yang mampu merekatkan elemen bangsa yang mulai dicabik-cabik  oleh sekelompok masyarakat. Ini yang sangat penting, bukan soal tua atau muda,” tandasnya.

Sederet tokoh yang masuk klasifikasi tua atau senior, kata Emrus, antara lain Ketau Umum PBNU Said Aqil Siradj, mantan Ketua Mahkamah Kontitusi Machfud MD, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar Akbar Tandjung.

Sedangkan tokoh yang disebut muda antara lain Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PPP Romahurmuzy, Gubernur NTB Zainul Madjdi atau Tuan Guru Bajang, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dan Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) untuk Pilkada 2018 dan Pilpres 2019 dari Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Dengan munculnya sejumlah tokoh dari kalangan tua dan muda, menurut Emrus, partai politik yang akan mengusung capres-cawapres, tinggal melakukan komunikasi politik untuk mencari dan memilih figur yang tepat yang akan diputuskan baik sebagai capres maupun cawapres.

“Dalam politik, komunikasi, bargaining, dan tawar menawar untuk mendapatkan posisi apa dan mendukung siapa, itu kan hal wajar. Kita harus tumbuhkan semangat demokrasi yang sudah kita bangun,” ujar Emrus.

 


(A Adib/CN33/SM Network)