• KANAL BERITA

Sistem Penyaluran Logistik Belum Maksimal

Foto suaramerdeka.com/dok
Foto suaramerdeka.com/dok

TANGERANG, suaramerdeka.com - Sistem mata rantai penyaluran logistik di Indonesia dinilai belum maksimal. Pasalnya, barang yang akan dikirim dari satu pulau ke pulau lain masih terhambat sejumlah aturan yang berbelit-belit. Imbasnya, biaya logistik dan harga barang akan melambung ketika sudah sampai tujuan. 
 
Penilaian itu diutarakan Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi di sela pameran bertajuk Cemat Southeast Asia, IndoTransLog, IndoColdChain, IndoTruck (CTCT) 2018 di ICE BSD City, Tangerang, Kamis (3/5). 

"Bukan hanya logistik, melainkan mata rantai pasokan tidak tersistem. Kami akan dorong melalui industri 4.0 (industri generasi keempat)," kata Yukki.

Melalui sistem industri 4.0, lanjut Yukki,  keterbukaan penyaluran logistik akan terlihat jelas. "Bagaimana transparansi, kecepatan, ketepatan, monitor barang, kontainer akan termonitor semua. Orang akan tahu di mana hambatannya, apa di pelaku usaha, perizinan atau yang lain," terangnya.

Guna mendukung implementasi industri 4.0, perusahaan asal Jerman, Deutsche Messe dengan PT Debindomulti Adhiswati (Debindo) menggelar pameran CTCT 2018. Kegiatan ini tak hanya diikuti peserta dari dalam negeri, tapi juga mancanegara seperti Italia, China, Malaysia, Thailand, Singapura dan Taiwan.

Direktur Utama PT Debindomulti Adhiswasti, Dwi Karsonno mengatakan, event CTCT fokus pada perkembangan implementasi layanan berbasis teknologi informasi digital industri 4.0. Industri generasi keempat ini, menurut Dwi, sebagai sebuah kebutuhan strategis dalam menghadapi derasnya arus globalisasi e‐commerce yang merambah semua sektor industri barang dan jasa. 

"Oleh karena itu, kami juga menggelar kegiatan konferensi selama empat hari paralel dengan kegiatan pameran," jelasnya.

Dia menuturkan, kegiatan CTCT juga bertepatan dengan momentum implementasi Paket Kebijakan Ekonomi XV Pemerintah yang memberikan peta jalan dan regulasi di sektor logistik, termasuk di dalamnya transportasi logistik sebagai perbaikan sistem logistik nasional untuk mempercepat pengembangan usaha dan daya saing penyedia jasa logistik nasional. 

"Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan industri rantai pasok untuk memanfaatkan kesempatan saling berinteraksi langsung di CTCT 2018 untuk secara bersama‐sama membangun sinergi demi masa depan industri rantai pasok Indonesia yang lebih baik," kata Dwi.


(Arif M Iqbal /CN19/SM Network)