• KANAL BERITA

Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Diharapkan Mampu Cegah Krisis Lingkungan

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Peringatan Hari Bumi Internasional yang jatuh pada setiap 22 April membawa banyak pesan bagi penduduk bumi. Pengelolaan sumber daya alam dengan menggunakan pendekatan pembangunan berkelanjutan harus menjadi fokus. Hal ini jauh lebih baik daripada sekedar mengeksploitasi tanpa memperhatikan keberlangsungan alam itu sendiri.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Imelda Freddy mengatakan, sudah banyak tanda-tanda yang ditunjukkan alam terkait krisis lingkungan yang disebabkan oleh eksploitasi manusia. Tidak tersedianya air di Afrika Selatan, berlangsungnya misim dingin dan kering yang berkepanjangan, kebakaran hutan yang tidak berkesudahan adalah tanda-tanda dari krisis tersebut. Eksploitasi alam yang berlebihan, seperti yang terjadi di hutan, adalah pendekatan using yang sudah tidak relevan.

"Kunci supaya hutan bisa lestari sekaligus bisa membawa manfaat ekonomi adalah adanya keseimbangan antara alam dan manusia. Logikanya, jika manusia terus-menerus mengambil hasil alam tanpa ada upaya melestarikan ekosistem hutan, maka dampaknya nya akan dirasakan oleh manusia juga. Karena itu pemberian hak pengelolaan atas hutan ini harus dikaji dengan memikirkan serta melibatkan semua pihak," terangnya.

Di saat masyarakat urban Indonesia fockus pada pembangunan infrastruktur dan ekonomi seperti industry tambang, kelapa sawit, penebangan kayu, dan kegiatan lainnya yang sering merusak lingkungan dan mengakibatkan deforestasi bagi bagi hutan Indonesia, masyarakat yang hidup di sekitar hutan dan juga pedesaan yang paling aktif menjaga lingkungan.

Peran mereka besar dalam hal ini. Namun sayangnya keberadannya seringkali diabaikan oleh pemerintah. Imelda menjelaskan, pelibatan mereka sangat penting dalam kegiatan yang bertujuan untuk menjaga keberlangsungan alam. Pengelolaan hutan sebaiknya lebih difokuskan pada masyarakat sekitar atau pengelolaan hutan berbasis masyarakat (PHBM).

PHBM ini bersifat holistik, khususnya bagi masyarakat adat, dimana hutan tidak dibedakan dengan sumber daya alam lain. Dengan kata lain, hutan merupakan satu kesatuan dengan manusia yang tidak terpisahkan. Ketidak seimbangan yang terjadi pada hutan/lingkungan, akan mengakibatkan ketidakseimbangan juga bagi manusia.

"Dengan PHBM, pelibatan masyarakat sekitar hutan dalam menjaga kelestarian hutan akan membawa dampak positif. Mereka adalah orang-orang yang hidup di sana dan memandang hutan sebagai sumber penghidupan mereka. Pemerintah tidak bisa menjalankan program tanpa melibatkan mereka dan mendengarkan best practice yang sudah menjadi pengalaman mereka secara turun temurun," jelasnya.


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)