• KANAL BERITA

Melatih Wirausaha dari Barang Bekas Sejak Dini

HASIL KERAJINAN: Siswa SMP IT PAPB Semarang memajang hasil kerajinan dari barang-barang bekas dalam ''Market Day'' di sekolah tersebut, Rabu (2/5). (suaramerdeka.com/Arie Widiarto)
HASIL KERAJINAN: Siswa SMP IT PAPB Semarang memajang hasil kerajinan dari barang-barang bekas dalam ''Market Day'' di sekolah tersebut, Rabu (2/5). (suaramerdeka.com/Arie Widiarto)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Memperingati Hari Pendidikan, siswa-siswi SMP Islam Terpadu Pengajian Ahad Pagi Bersama (PAPB) Palebon Semarang mengisi dengan kegiatan berbeda. Para siswa di sekolah tersebut menggelar student ecoprenuer dengan menggelar hasil karya berupa kerajinan yang terbuat dari barang-barang bekas.

Hasil kerajinan tersebut dipasarkan dalam kegiatan bertema ''Market Day'' yang digelar usai upacara Hari Pendidikan di lapangan sekolah tersebut, Rabu (2/5).

''Kegiatan ini untuk mendukung pembangunan ramah lingkungan. Siswa dilatih wirausaha daur ulang sampah,'' ungkap Kepala Sekolah Ramelan ditemui di sela-sela acara.

Menurutnya pelatihan wirausaha dari barang bekas ini ternyata membuat siswa bersemangat mengumpulkan sampah. Selain mengurangi sampah di sekolah, barang bekas kini jadi bernilai ekonomis.

Kerajinan tangan yang dihasilakan antara lain boneka dari kain perca, stik es krim menjadi tempat tisu, botol bekas menjadi pot tanaman, sedotan menjadi taplak meja, kertas koran dan banyak barang bekas lainnya.

''Ternyata juga laku dijual dan hasilnya cukup lumayan,'' jelas Ramelan.

Dalam kegiatan ini, lanjut dia, setiap kelas dibebaskan untuk membuat kerajinan berbahan barang bekas. Siswa justru dituntut kreatif mengolah barang bekas agar memiliki nilai jual.

''Mereka berembug sendiri, mendesain sendiri dan merencanakan sendiri ingin membuat apa. Yang penting hasilnya menjadi barang-barang yang bermanfaat,'' kata dia.

Ramelan menyatakan, pihaknya intens menggalakkan program tersebut untuk memperkuat siswa berwirausaha dimulai dari hal yang paling mudah yakni pengelolaan sampah di lingkungan sekolah. Pada akhirnya volume sampah dapat dikendalikan serta meningkatkan kebersihan lingkungan sekolah agar bersih, indah dan nyaman.

''Lebih dari itu,ke depan siswa diharapkan tertarik untuk berwirausaha dengan produksi sendiri,'' jelasnya.

Salah satu siswa Rifky Febrian kelas 8B mengatakan jika sebelumnya sampah dianggap momok, kini dengan sentuhan dan kreativitas, menjadi barang bernilai. Ini juga memotivasi siswa untuk lebih peduli lingkungan.

''Kami juga dibantu oleh guru dan orang tua untuk membuat ide wirausaha dari barang bekas ini,'' jelasnya. 


(Arie Widiarto/CN39/SM Network)