• KANAL BERITA

Polda DIY Tetapkan Tiga Tersangka

Terkait Demo Rusuh di Pertigaan UIN Jogja

BARANG BUKTI: Sejumlah spanduk dan botol minuman energi yang diduga sebagai bom molotov yang didapat polisi pasca  kericuhan usai unjuk rasa di pertigaan UIN Sunan Kalijaga diperlihatkan di Mapolda DIY, Rabu (2/5). (suaramerdeka.com/Gading Persada)
BARANG BUKTI: Sejumlah spanduk dan botol minuman energi yang diduga sebagai bom molotov yang didapat polisi pasca kericuhan usai unjuk rasa di pertigaan UIN Sunan Kalijaga diperlihatkan di Mapolda DIY, Rabu (2/5). (suaramerdeka.com/Gading Persada)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Kepolisian Daerah (Polda) DIY  resmi menetapkan tiga orang sebagai tersangka atas demonstrasi yang ricuh dan berbuntut pembakaran terhadap Pos Polisi di simpang tiga Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ketika terjadi unjuk rasa dalam rangka Hari Buruh Internasional, May Day.

Ketiga tersangka tersebut merupakan bagian dari tidak kurang 60 orang yang diamankan dari lokasi pasca kejadian.

Kapolda DIY Brigjen Pol Ahmad Dofiri usai memimpin apel pagi di halaman Mapolda setempat, pagi tadi, mengatakan penetapan ketiga orang tersebut sebagai tersangka itu sudah melalui Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ada. Ketiga tersangka berinisial AR, IB, dan MC dan berstatus sebagai mahasiswa.

“Sudah sebagai tersangka. Memang aksi ini dari awal mengharapkan chaos (rusuh) seperti kemarin itu. Mereka kami kenakan pasal berlapis dengan ancaman hukuman rata-rata di atas lima tahun kurungan penjara," kata Kapolda, Rabu (2/5). 

Menurut Dofiri, pada awalnya para pengunjuk rasa menggelar aksi ingin menyuarakan aspirasi tentang buruh. Namun kemudian kenyataannya ada agenda lain yang sudah dipersiapkan.

“Ini memang betul-betul dipersiapkan sudah ada barang bukti yang mendukung hal itu, kami akan mengusut tuntas kasus ini,” tegas jenderal bintang satu itu.

Pada kesempatan tersebut, Kapolda dan jajarannya juga memperlihatkan sejumlah barang bukti yang ditemukan di lokasi kejadian. Beberapa botol minuman energi dengan diberi sumbu yang diduga sebagai bom molotov diperlihatkan juga. Termasuk sejumah spanduk berisi kecaman kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X dan penolakan terhadap pembangunan bandara baru di Kulonprogo.

Sementara itu Direktur Ditreskrimum Polda DIY, Kombes Pol Hadi Utomo menambahkan ketiga tersangka itu ditetapkan dengan pasal berlapis. Yaitu Pasal 160, 170, 187, dan 406. Ancaman rata-rata di atas 5 tahun penjara.

“Seorang sebagai koordinator umum unjuk rasa, dan yang lain adalah pelaku perusakan. Mereka ditetapkan atas alat bukti yang ada dan sudah dilakukan penahanan,” sambung Hadi Utomo. 

Perwira menengah Polri dengan tiga melati dipundaknya tersebut menjelaskan bahwa status para tersangka saat ini tercatat sebagai mahasiswa di  dua kampus yang ada di Jogja. Namun kegiatan unjuk rasa yang dilakukan mereka tanpa sepengetahuan pihak kampus dan tidak ada pemberitahuan kepada kepolisian. 

“Data yang ada mereka statusnya mahasiswa, tapi apakah sudah DO atau seperti tersangka (kasus yang sama) pernah diamankan ternyata mahasiswa sudah sepuluh tahun lalu masih kami cek,” ungkap dia.

Yang cukup mengejutkan, lanjut dia, ada salah seorang tersangka yang diamankan juga diketahui positif menggunakan obat psikotropika. Seperti sabu, ganja, dan obat penenang yakni tersangka berinisial IB. 

Dari barang bukti yang dilakukan penyitaan, di antaranya spanduk berisi tulisan provokatif. Seperti, 'Ah sudahlah Indonesia bubar saja', 'Tolak bandara', 'Jogja Istimewa Tanpa SG/PAG'. Selain itu juga 55 bom molotov, 4 plastik berisi solar, 4 mercon, tongkat kayu, pilox.

Sebelumnya diketahui, demo anarkis terjadi di pertigaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Selasa (1/5) sore. Selain jalan diblokir, juga ada pembakaran ban, serta diakhiri dengan membakar pos lalu lintas.  Demo memanfaatkan momen hari buruh itu, para massa aksi menyuarakan berbagai aspirasi. Seperti meminta untuk menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), menolak upah murah dan jaminan kesehatan kerja, mencabut Perpres 20/2018 tentang Tenaga Kerja Asing. 

Kemudian, menghentikan pembangunan Bandara NYIA, menolak Sultan Ground dan Pakualaman Ground, serta pencabutan nota kesepahaman perbantuan TNI ke Polri. Pihak kepolisian setelahnya mengamankan sebanyak 69 orang.


(Gading Persada /CN39/SM Network)