• KANAL BERITA

Warga Tolak Pelaku Kembali ke Desa

Kasus Pembunuhan Ibu Kandung

foto ilustrasi - istimewa
foto ilustrasi - istimewa

KLATEN, suaramerdeka.com - Warga Dusun/ Desa Pepe, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten menolak jika pelaku pembunuhan ibu kandung, Dwi Budiyanto (33) dipulangkan ke desa dalam waktu dekat. Warga masih trauma dengan pembunuhan terhadap Juwariyah (60).

Tokoh masyarakat Dusun Pepe, Juwadi mengatakan, sudah meminta polisi untuk menjauhkan pelaku dari kampung sementara waktu. ''Pokoknya tidak dipulangkan, terserah mau dirawat di mana,'' jelasnya, Rabu (2/5).

Saat ini, warga masih trauma dengan kejadian sadis Minggu (29/3) malam. Korban yang tak lain ibu kandung Dwi, tewas dengan kepala luka parah akibat senjata tajam. Warga lebih khawatir jika nantinya dipulangkan pelaku memiliki rasa dendam kepada warga.

Pasalnya usai kejadian yang mengamankan pelaku dan mengikat di pohon adalah para tetangga. Pelaku diikat semula agar tidak tambah mengamuk atau lari. Apalagi selama ini kondisi kejiwaan Dwi tidak sakit jiwa parah.

Kadang sadar dan beraktivitas biasa tetapi saat kambuh membuat takut warga karena berlari dan berteriak ingin mati. Bahkan usai menghabisi ibunya berteriak dan bertanya penuh penyesalan. Saat tidak kambuh penyakitnya, malah Dwi tetap berangkat ke pengajian dan kegiatan zikir.

Kondisinya yang kadang baik itulah yang membuat warga tidak habis pikir dengan ulah nekatnya yang membunuh dan memenggal kepala ibu kandungnya sendiri. Padahal selama ini dari dua anak pasangan Juwariyah dan Daryanto, Dwi merupakan anak yang paling disayang. Kakaknya, Purwanto bekerja di Malaysia sehingga Dwi menjadi anak semata wayang.

Masih Takut

Paman pelaku, Badri mengatakan, sudah rela jika keponakannya itu diurus polisi. ''Mau bagaimana lagi, keluarga juga masih takut,'' katanya.

Selain itu, untuk sementara suami korban, Daryanto akan diminta tinggal di rumah saudaranya dulu untuk menenangkan batin. Sebab jika tinggal sendirian di rumah, dikhawatirkan guncangan jiwanya tidak segera pulih.

Kasat Reskrim Polres Klaten, AKP Suardi Jumaing, mewakili Kapolres AKBP Juli Agung Pramono mengatakan, jika warga menolak pelaku dipulangkan, Polres sudah melakukan langkah antisipasi. ‘’Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Dinas siap menangani,'' ungkapnya.

Apabila warga menolak, penanganan pelaku akan ditangani Dinas Sosial untuk dirawat di RSJ. Namun untuk sementara pelaku masih dilakukan observasi 20 hari ke depan. Polres akan menunggu hasil observasi dari RSJD untuk memastikan kondisi kejiwaan pelaku sebagai dasar melanjutkan proses penyidikan perkaranya. Kasus itu bukan kasus pertama di Klaten sehingga masyarakat yang memiliki keluarga dengan gangguan jiwa ada baiknya diupayakan pengobatannya. 


(Achmad Hussain/CN40/SM Network)