• KANAL BERITA

Tenaga Kontruksi Indonesia Masih Terbatas

Peserta dengarkan paparan seorang narasumber saat acara pembekalan  dan uji kompetensi Ahli Muda K3 kontruksi di Ruang Samara, Hotel Noormans. (suaramerdeka.com/Siswo Ariwibowo)
Peserta dengarkan paparan seorang narasumber saat acara pembekalan dan uji kompetensi Ahli Muda K3 kontruksi di Ruang Samara, Hotel Noormans. (suaramerdeka.com/Siswo Ariwibowo)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Jumlah tenaga kontruksi di Indonesia, terbilang masih sangat terbatas. Tercatat hanya delapan juta orang menggeluti dunia tersebut. Namun, dari jumlah itu, sebagian besar belum bersertifikat keahlian.

"Hanya 300 ribu orang bersertifikat ahli di bidang kontruksi. Selanjutnya sebanyak 1.800.000 orang sekadar terampil dan 5,9 jutaan orang tidak terampil," ungkap Sekjen Asosiasi Ahli Keselamatan Kerja Kontruksi Kerja Indonesia, Kusumo Derajat Sucahyo, Rabu (2/5).

Kusumo Derajat menyampaikan hal itu, saat acara pembekalan dan uji kompetensi Ahli Muda Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) kontruksi di Ruang Samara, Hotel Noormans, Jalan Teuku Umar No 27 Semarang.

Oleh karena itu pihaknya mendorong siapa pun yang telah memiliki pengalaman di bidang kontruksi, untuk mengikuti uji kompetensi dan sertifikasi. Hal ini dimaksudkan untuk menakar kemampuan dengan tenaga asing dalam pecaturan global. "Bandingkan saja dengan penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 250 juta jiwa dengan pekerja kontruksi yang hanya delapan juta. Ini jumlah yang sangat kecil," imbuhnya.

Sementara pemateri lainnya, M Mushanif Mukti menjelaskan, tentang cara mengenali potensi bahaya saat berkerja yang dapat menekan risiko terjadinya kecelakaan kerja. Menurut dia, ketelitian, pengetahuan, dan kepatuhan terhadap Standar Operasional Prosedural (SOP) mutlak dimiliki seseorang, terlebih bagi mereka yang bekerja di bidang kontruksi.

"Paling tidak memiliki basic tentang knowledge (pengetahuan), attitude (sikap), serta kepatuhan terhadap SOP kerja. Itu hal dasar yang harus dipahami," kata dia.

Menurutnya, banyak kecelakaan fatal terjadi hanya disebabkan persoalan sederhana seperti, lupa tidak melepas colokkan listrik usai bekerja, tidak memakai sepatu atau sarung tangan.

"Anda bisa melihat kecelakaan-kecelakaan kontruksi terkadang hanya gara-gara keteledoran pekerja, selebihnya ketidakmampuan yang dipaksakan," ujarnya.

Salah satu panitia, Sae Sario Indrawan mengatakan, kegiatan uji kompetensi Ahli Muda Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ini diikuti sebanyak 36 orang. Mereka sebagian besar karyawan sebuah PT milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang jasa super visi dan perencanaan pembangunan di Kota Semarang. Selain itu, ada beberapa peserta lainnya yang memang masa berlaku sertifikatnya telah habis.

"Kalau di Semarang ada 200 orang di bidang jasa kontruksi. Kesadaran K3 di kalangan dunia kontruksi terus kami dorong," kata Indrawan.


(Siswo Ariwibowo /CN40/SM Network)